Buntut Keracunan Ratusan Siswa SMKN 6 Semarang, BGN Bekukan Operasional Dapur MBG
Semarang, Nusantara News Today – Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah tegas dengan membekukan sementara operasional dapur penyedia program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Semarang. Tindakan ini menyusul insiden gangguan kesehatan massal yang dialami ratusan siswa SMKN 6 Semarang, yang diduga kuat bersumber dari hidangan yang disajikan.
Kepala BGN, Sudaryono, turun langsung ke lokasi untuk meninjau penanganan medis para korban dan mengevaluasi akar permasalahan. Dari data yang dihimpun BGN, sekitar 700 siswa dilaporkan mengalami gejala mual dan gangguan pencernaan. Sebanyak 13 siswa di antaranya memerlukan perawatan intensif di rumah sakit dan puskesmas setempat. “Saat saya temui di bangsal perawatan, kondisi para siswa alhamdulillah telah membaik dan stabil,” ujar Sudaryono, memberikan kabar positif mengenai kondisi terkini para korban.
Pelanggaran SOP Waktu Olah Makanan Terungkap
Investigasi awal yang dilakukan BGN mengungkap adanya pelanggaran serius terkait standar operasional prosedur (SOP) waktu pengolahan makanan, khususnya batas waktu penyajian atau holding time. Ditemukan bahwa proses memasak hidangan telah dimulai sejak pukul 21.00 WIB pada malam sebelumnya, namun makanan baru didistribusikan kepada siswa pada pukul 09.00 hingga 10.00 WIB keesokan harinya. Rentang waktu yang mencapai 12 jam antara produksi dan konsumsi ini terbukti memicu penurunan kualitas hidangan secara signifikan, hingga berpotensi membahayakan kesehatan.
Atas temuan ini, BGN tidak hanya menghentikan operasional dapur penyedia, tetapi juga melayangkan Surat Peringatan (SP) kepada pihak Satuan Pelayanan Pengawasan Gizi (SPPG), Koordinator Kecamatan (Korcam), serta mitra pengelola yang terlibat dalam program MBG tersebut. Langkah ini menegaskan komitmen BGN untuk tidak mentolerir kelalaian dalam menjaga kualitas dan keamanan pangan.
Percepatan Sistem Pengawasan Digital untuk Keamanan Pangan
Sebagai upaya korektif jangka panjang dan preventif, BGN menyatakan akan mempercepat integrasi sistem pengawasan berbasis digital pada seluruh rantai pasok dapur program MBG. Sistem ini dirancang untuk mengunci dan memantau secara otomatis berbagai parameter produksi, mulai dari waktu memasak, jenis bumbu yang digunakan, hingga alur distribusi makanan.
“Waktu memasak, jenis bumbu, hingga alur distribusi akan terkunci dalam sistem yang dapat dipantau secara transparan oleh guru, orang tua murid, dan Dinas Kesehatan,” tegas Sudaryono. Inisiatif ini diharapkan dapat meningkatkan akuntabilitas dan transparansi, serta mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang.
Mengakhiri keterangannya, Kepala BGN menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada masyarakat atas insiden yang terjadi. Ia juga memberikan peringatan keras kepada seluruh pengelola dapur program MBG agar tidak pernah mengabaikan standar keselamatan pangan. “Camkan, jangan main-main dengan amanah. Insiden ini menyakiti kepercayaan warga, dan sekali lagi saya memohon maaf,” pungkasnya, menekankan pentingnya tanggung jawab dalam mengelola program gizi bagi generasi muda.
Editor: Fernando Albert Damanik






















Komentar