Dinkes Sumut Bantah Isu Penurunan Daya Ingat 70 Persen pada Febiona
MEDAN — Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sumatera Utara secara resmi membantah informasi yang beredar luas di masyarakat mengenai kondisi Febiona boru Purba, siswi yang diduga mengalami keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 13 Agustus 2026. Informasi yang menyebut Febiona mengalami kehilangan atau penurunan daya ingat hingga 70 persen itu ditegaskan tidak didukung oleh temuan medis apa pun.
Kepala Dinkes Sumut, Faisal Hasrimy, menyampaikan klarifikasi tersebut secara langsung di Kantor Dinkes Sumatera Utara, Kamis (10/9/2026). Ia menegaskan bahwa pemeriksaan menyeluruh yang dilakukan di dua rumah sakit rujukan tidak menemukan indikasi gangguan fungsi otak sebagaimana yang diklaim dalam informasi yang beredar.
Hasil EEG Tunjukkan Fungsi Otak dalam Batas Normal
Salah satu pemeriksaan kunci yang menjadi dasar pernyataan Dinkes Sumut adalah hasil Electroencephalography (EEG), yakni prosedur medis yang digunakan untuk mengukur aktivitas listrik otak dan mendeteksi kemungkinan gangguan neurologis. Pemeriksaan tersebut dilakukan terhadap Febiona di dua fasilitas kesehatan rujukan, yaitu RSU Haji Medan dan RSUP H. Adam Malik.
“Secara medis sudah bagus. Hasil asesmen dari RS Haji Medan dan RSUP Haji Adam Malik juga bagus, termasuk EEG normal,” ujar Faisal.
Hasil normal pada pemeriksaan EEG secara klinis menunjukkan bahwa tidak ada kerusakan atau gangguan aktivitas otak yang signifikan pada Febiona. Temuan ini menjadi dasar kuat bagi Dinkes Sumut untuk menepis klaim penurunan daya ingat 70 persen yang telah beredar dan menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat.
Gangguan Ingatan Sempat Terjadi, Namun Bersifat Sementara
Faisal tidak sepenuhnya menampik bahwa Febiona pernah mengalami gangguan ingatan. Namun ia memberikan penjelasan konteks yang penting: kondisi tersebut terjadi sesaat setelah Febiona pertama kali sadar dari rasa sakit yang berat, dan sifatnya hanya sementara.
“Tidak ada hilang ingatan 70 persen. Memang sempat mengalami gangguan ingatan sebentar ketika sadar, tetapi sekarang sudah normal. Itu efek dari rasa sakit yang berlebihan,” tegasnya.
Dalam dunia medis, gangguan kognitif sementara — termasuk kebingungan atau kesulitan mengingat — memang dapat muncul sebagai respons tubuh terhadap kondisi fisik yang ekstrem, seperti nyeri hebat, dehidrasi berat, atau syok. Kondisi semacam ini umumnya bersifat reversibel dan akan membaik seiring pemulihan kondisi fisik pasien secara keseluruhan. Faisal menegaskan bahwa itulah yang terjadi pada Febiona, dan kondisinya kini telah kembali normal.
Aspek Psikologis Masih Menjadi Perhatian Khusus
Meski pemeriksaan fisik dan neurologis menunjukkan hasil yang menggembirakan, Dinkes Sumut menyoroti satu aspek yang masih memerlukan perhatian serius, yaitu kondisi psikologis Febiona. Hasil asesmen psikiatri mengungkapkan adanya indikasi trauma yang dialami oleh Febiona, yang menurut Faisal berkaitan erat dengan perubahan situasi yang terjadi secara mendadak dalam hidupnya.
Sejak insiden dugaan keracunan pada program MBG tersebut, Febiona menjadi sorotan publik yang cukup intensif. Perhatian besar dari masyarakat, pemberitaan media, dan hiruk-pikuk di sekitarnya disebut Faisal sebagai faktor yang turut memengaruhi kondisi psikis sang siswi.
Trauma psikologis pada anak dan remaja akibat paparan perhatian publik yang tiba-tiba memang dikenal dalam kajian psikologi. Kondisi ini dapat memunculkan kecemasan, stres, hingga gejala yang menyerupai Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) ringan, meskipun diagnosis resmi hanya dapat ditegakkan oleh tenaga psikiatri yang menangani langsung. Dalam konteks ini, pendampingan psikologis yang berkelanjutan menjadi sangat relevan.
Pendampingan Medis dan Psikiatri Tetap Berlanjut
Meski status medis Febiona dinyatakan baik, Dinkes Sumut memastikan bahwa proses pemantauan dan pendampingan tidak akan dihentikan begitu saja. Tim medis bersama psikiater disebut masih aktif melakukan pendampingan untuk memastikan proses pemulihan Febiona berjalan menyeluruh, baik dari sisi fisik maupun psikologis.
“Kita akan terus memantau. Sampai hari ini kondisi Febiona masih dalam perawatan dan akan kami update kembali,” kata Faisal.
Untuk penjelasan lebih rinci mengenai detail kondisi medis Febiona, Dinkes Sumut menyerahkan kewenangan sepenuhnya kepada Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP) yang menangani langsung pasien. Langkah ini sesuai dengan etika kedokteran yang mengatur kerahasiaan rekam medis pasien dan batas kewenangan komunikasi klinis.
Pentingnya Literasi Informasi di Tengah Isu Kesehatan yang Viral
Kasus yang menimpa Febiona dan derasnya informasi yang beredar seputar kondisinya menjadi pengingat akan pentingnya literasi informasi kesehatan di era digital. Angka-angka seperti “hilang ingatan 70 persen” yang beredar tanpa sumber medis yang dapat diverifikasi berpotensi menimbulkan kepanikan yang tidak perlu, sekaligus mempersulit proses pemulihan korban yang bersangkutan.
Pernyataan resmi dari otoritas kesehatan seperti Dinkes Sumut justru menjadi saluran yang tepat untuk memperoleh informasi yang akurat dan terverifikasi. Masyarakat diimbau untuk merujuk pada sumber resmi sebelum menyebarkan informasi terkait kondisi kesehatan seseorang, apalagi yang melibatkan anak di bawah umur.
Latar Belakang: Insiden Dugaan Keracunan MBG 13 Agustus 2026
Untuk diketahui, insiden yang melibatkan Febiona boru Purba terjadi pada 13 Agustus 2026, dalam rangkaian pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah. Febiona diduga mengalami keracunan makanan yang berujung pada kondisi fisik serius hingga memerlukan perawatan intensif di dua rumah sakit rujukan. Proses hukum maupun penyelidikan terkait insiden tersebut, berdasarkan bahan yang tersedia, masih dalam tahap yang belum berkekuatan hukum tetap, sehingga penggunaan kata “dugaan” tetap berlaku dalam pelaporan ini.
Dinkes Sumut menegaskan komitmennya untuk terus memperbarui informasi mengenai perkembangan kondisi Febiona kepada publik secara transparan dan bertanggung jawab.
Pimred: Suleman Sinulingga
Pimpinan Umum: Fernando Albert Damanik























Komentar