SIMALUNGUN – Krisis kepercayaan melanda Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Simalungun. Lembaga Anak Generasi Indonesia (AGENSI) bersama Aliansi Forum Jurnalis Indonesia (AFJI) secara resmi melayangkan “Rapor Merah” dan mosi tidak percaya terhadap kinerja instansi tersebut. BNN dinilai hanya menjadi “pajangan” birokrasi di tengah badai narkoba yang kini sudah menembus hingga ke tingkat dusun.
Ketua Umum Lembaga AGENSI, Fernando Albert Damanik, dengan tegas menyatakan bahwa keberadaan BNN Simalungun saat ini gagal memberikan rasa aman bagi orang tua dan masa depan anak bangsa.
“Anggaran Negara Terkuras, Generasi Simalungun Kandas”
Perwakilan AFJI, T. Simarmata, menyoroti paradoks yang memuakkan antara besarnya anggaran operasional BNN dengan fakta di lapangan. Ia menilai, efektivitas lembaga ini nyaris nol jika diukur dari kemudahan masyarakat mendapatkan barang haram tersebut di pemukiman warga.
“Kita bicara soal nyawa manusia dan uang rakyat. Jika anggaran negara terus mengalir tapi narkoba makin merajalela, maka BNN Simalungun sedang membiarkan generasi kita kandas. Jangan sampai institusi ini hanya jadi simbol mahal yang tak punya daya pukul!” cetus T. Simarmata, Minggu (8/2/2026).
Pematang Raya: Dari ‘Kota Pelajar’ Menjadi ‘Surga’ Transaksi?
Tamparan keras juga diarahkan pada kondisi Pematang Raya. Sebagai Ibukota Kabupaten Simalungun yang menyandang predikat Kota Pelajar, Raya kini dinilai berada dalam titik nadir pengawasan. AFJI menyebut negara seolah kalah langkah di pusat pemerintahannya sendiri.
“Kalau di teras rumah bupati dan pusat pendidikan saja narkoba beredar bebas, itu tandanya BNN sedang ‘tidur nyenyak’. Pematang Raya kehilangan marwahnya sebagai kota pendidikan karena gagal dibersihkan dari cengkeraman mafia,” tambahnya.
Aransemen Tuntutan AGENSI & AFJI (Tiga Poin Perlawanan):
Audit Total dan Transparansi Anggaran: Mendesak BNN RI dan BPK untuk melakukan audit investigatif terhadap serapan anggaran BNN Simalungun yang dinilai tidak berbanding lurus dengan hasil tangkapan dan pencegahan.
Operasi Sterilisasi Ibukota: Menuntut pembersihan total lingkungan sekolah dan kampus di Pematang Raya dalam waktu singkat untuk mengembalikan jati diri Kota Pelajar.
Tindak Tegas Hingga ke Akar: Menolak segala bentuk formalitas administratif. AGENSI menuntut aksi represif nyata terhadap bandar-bandar kecil yang kini beroperasi secara terang-terangan di pelosok dusun.
Pernyataan Penutup
Fernando Albert Damanik melalui AGENSI menegaskan, perlawanan terhadap narkoba tidak bisa dilakukan dengan spanduk dan sosialisasi seremonial semata. Tanpa evaluasi total dan pencopotan pejabat yang tidak kompeten, BNN Simalungun hanya akan diingat sebagai lembaga yang membiarkan kehancuran generasinya sendiri.
Editor: Fernando Albert Damanik 🖋️ Laporan: Unit Investigasi Sosial & Strategis Nusantara News


















Komentar