DAIRI – Dunia pergerakan dan budaya di Kabupaten Dairi mendadak memanas. Ketua LSM Kemilau Cahaya Bangsa Indonesia (KCBI) Dairi, Insan Banurea, secara resmi melayangkan tantangan terbuka kepada oknum tokoh budaya Pakpak lintas budaya. Tantangan ini dipicu oleh sebutan “tiris tongkarang” yang dialamatkan kepada dirinya di sebuah grup media sosial.
Insan Banurea menuntut transparansi makna dan definisi utuh dari istilah tersebut, yang dinilainya bukan sekadar kata-kata biasa, melainkan serangan terhadap kredibilitas generasi muda.
“Pernyataan Itu Adalah Duri Bagi Generasi Muda”
Sebagai putra daerah keturunan Mpubada sekaligus penggiat budaya lokal, Insan merasa ucapan oknum tokoh tersebut sangat destruktif.
“Pernyataan itu terkesan mengkerdilkan cara berpikir generasi muda ke depan. Ini adalah duri dalam pertumbuhan semangat kepedulian sosial anak muda Pakpak,” tegas Insan Banurea saat memberikan keterangan pers, Minggu (22/02/2026).
Kronologi: Kepedulian Hukum yang Digiring ke Isu SARA
Polemik ini bermula saat LSM KCBI memberikan pendampingan hukum kepada pasangan suami-istri Syahdan Sagala dan Morita Bintang. Kepedulian kemanusiaan ini justru dibalas dengan tuduhan miring di grup WhatsApp Forum Penyelamat Tanah Ulayat Pakpak. Insan dituding tidak nasionalis terhadap sukunya sendiri karena membela pihak yang disebut sebagai Suku Toba.
Insan Banurea dengan tenang namun tajam meluruskan duduk perkara tersebut:
Fokus pada HAM, Bukan Ulayat: Kasus yang dikawal adalah murni persoalan Hak Asasi Manusia (HAM), bukan sengketa tanah ulayat.
Bukan Isu SARA: Konflik antara Syahdan Sagala dan Nuridah Puspa Pasi adalah ranah hukum privat, tidak ada sangkut pautnya dengan kesukuan.
Kritik Peran Tokoh: Insan mempertanyakan mengapa oknum tokoh tersebut baru muncul saat ada perlawanan hukum. “Jika benar tokoh, seharusnya turun gunung sejak awal untuk mendamaikan secara adat, bukan muncul seperti kebakaran jenggot saat situasi sudah memanas,” sindirnya.
Edukasi Publik: Memulihkan Nama Baik dan Menolak Narasi Sempit
Langkah Insan Banurea ini dinilai banyak pihak sebagai bentuk edukasi publik agar masyarakat tidak “teracuni” oleh narasi sempit yang memecah belah persatuan lintas suku.
Pimpinan Umum Nusantara News Today, Fernando Albert Damanik, memberikan pandangannya terkait kasus ini. “Jurnalisme nurani mendukung keberanian generasi muda seperti Insan Banurea. Seorang tokoh seharusnya menjadi pengayom dan pemersatu, bukan justru menggunakan istilah budaya untuk membangun sentimen SARA yang bisa merugikan kerukunan di Dairi,” ungkap Fernando.
Menunggu Penjelasan “Tiris Tongkarang”
Insan menegaskan tidak akan tinggal diam atas tudingan yang menyasar harga dirinya. “Saya menantang beliau untuk berani menguraikan definisi ‘tiris tongkarang’ secara gamblang di depan publik. Jangan melempar narasi tanpa dasar yang jelas yang akhirnya merusak nama baik saya sebagai penggiat budaya,” tutupnya.
Hingga berita ini diturunkan, publik Dairi menunggu apakah oknum tokoh budaya tersebut akan menjawab tantangan terbuka ini atau justru memilih bungkam atas narasi yang telah dilemparkannya.
Editor: Fernando Albert Damanik 🖋️
Laporan: Unit Liputan Investigasi & Budaya Daerah


















Komentar