LABUHANBATU – Di tengah gempuran candu gadget dan ancaman kenakalan remaja, sebuah pemandangan menyentuh hati tersaji di Lapangan Lingga Tiga, Kecamatan Bilah Hulu, Minggu (8/2/2026). Ratusan anak dari empat kabupaten—Labuhanbatu Raya (Induk, Selatan, Utara) dan Padang Lawas Utara—berkumpul dengan mata berbinar, mengejar mimpi melalui Festival Sepak Bola Ramadhan Cup.
Namun, di balik sorak-sorai tersebut, terselip fakta pahit: event lintas kabupaten yang krusial bagi karakter anak bangsa ini harus berdiri tegak secara mandiri. Ironisnya, hingga kini nihil bantuan sponsor dari perusahaan atau pengusaha besar yang beroperasi di wilayah tersebut.
Misi Penyelamatan Karakter Bangsa: Melawan Layar HP
Ketua Panitia, Indra Desling, mengungkapkan bahwa festival ini bukan sekadar turnamen, melainkan misi penyelamatan fokus anak bangsa.
“Kami ingin mereka kembali ke lapangan, bukan terpaku pada layar HP yang merusak fokus. Ini soal membangun kecintaan terhadap olahraga sejak dini,” ujarnya penuh harap.
Senada dengan itu, Ketua PAC GRIB Jaya Bilah Hulu, M. Edi Simanjuntak, menegaskan komitmen mereka untuk menghargai setiap tetes keringat anak-anak tersebut.
“Setiap pemain yang tidak juara pun kami berikan medali. Kami ingin menghargai mereka. Meski saat ini hanya disponsori internal GRIB Jaya Bilah Hulu, kami ingin ini berkelanjutan,” tegas Edi.
Mengetuk Pintu Hati: Di Mana Peran Pabrik Sawit Sekitar?
Sangat miris melihat kemandirian warga ini berjalan sendirian tanpa uluran tangan dari sektor korporasi, terutama perusahaan dan pabrik kelapa sawit yang berada di sekitar lokasi (Lingga Tiga). Padahal, kegiatan ini memberikan dampak riil yang luar biasa:
Ekonomi Kerakyatan: UMKM dan pedagang kecil di Desa Lingga Tiga kebanjiran pembeli sejak pembukaan.
Benteng Sosial: Secara efektif menjauhkan anak muda dari bahaya narkoba dan judi online.
Rekat Sosial: Menjadi jembatan silaturahmi antar-masyarakat dari empat kabupaten.
Ketua DPC GRIB Jaya Labuhanbatu, Ahmad Putra Lubis, yang hadir memberikan suntikan moral, berharap bibit muda ini tidak patah semangat meski fasilitas dan dukungan finansial masih minim.
Harapan: Jangan Biarkan Api Semangat Anak-Anak Padam!
Festival ini adalah bukti nyata bahwa masyarakat memiliki kepedulian tinggi, namun daya dukung finansial tentu memiliki batas. Harapan besar kini digantungkan kepada Pemerintah Daerah dan pimpinan perusahaan di Labuhanbatu agar tidak menutup mata terhadap semangat warga.
“Kami tidak ingin api semangat anak-anak ini padam hanya karena keterbatasan biaya. Kami mengundang pemerintah dan perusahaan untuk hadir di event selanjutnya. Jangan hanya ambil keuntungan dari tanah kami, tapi investasilah pada masa depan anak-anak kami,” tutup Edi Simanjuntak dengan nada tegas.
Editor: Fernando Albert Damanik 🖋️ Laporan: Tim Biro Labuhanbatu Raya


















Komentar