ACEH TENGAH – Krisis kemanusiaan terjadi di Kampung Pantan Nangka, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah. Memasuki hari kedelapan pasca-bencana, masyarakat di sana menanggung beban pilu: belum satu pun bantuan logistik resmi dari pemerintah tiba di lokasi.
Di tengah keputusasaan stok makanan yang menipis drastis, salah seorang warga, Aramiko, menuturkan sebuah kalimat memilukan yang menggema sebagai teriakan putus asa dari tanah Linge:
“Sepertinya sekarang kami tidak butuh bantuan makanan lagi. Kirim kami kain kafan saja,”.
Ironi Swadaya: Helikopter Hanya Melintas di Atas Kepala
Meskipun terisolasi total, warga Pantan Nangka telah menunjukkan inisiatif heroik untuk bertahan secara mandiri:
Membangun Landasan Darurat: Mereka bergotong royong membangun landasan pacu darurat, berharap helikopter pembawa bantuan dapat mendarat.
Swadaya BBM: Warga menyumbang BBM swadaya, menguras bahan bakar dari kendaraan pribadi demi menghidupkan genset penerangan.
Membuka Akses: Mereka berhasil membuka jalur darurat yang hanya cukup dilewati sepeda motor di titik longsor.
Namun, semangat swadaya ini berhadapan dengan kenyataan pahit. Warga mengaku sering melihat helikopter yang diduga membawa bantuan hanya terbang melintasi langit mereka, tanpa pernah sekalipun mendarat.
Kelompok Rentan Terancam Nyawa
Akses utama yang lumpuh total telah mengancam nyawa kelompok paling rentan. Aramiko menggambarkan kondisi miris tersebut:
Lansia dan Sakit: Banyak orang tua harus berjalan kaki puluhan kilometer ke Aceh Tengah hanya untuk mendapatkan susu.
Ibu Hamil: Banyak ibu hamil yang nasibnya tidak jelas karena akses medis terputus.
Keterlambatan dan ketidakjelasan bantuan ini bukan hanya masalah logistik, tetapi krisis kemanusiaan yang membutuhkan respons cepat dan tegas dari Pemerintah Aceh Tengah dan Pemerintah Provinsi.
Masyarakat Pantan Nangka telah berupaya sekuat tenaga. Kini, pertanyaannya adalah: Sampai kapan mereka harus menanti uluran tangan, sebelum kalimat ‘kirim kami kain kafan’ benar-benar menjadi kenyataan?
By Redaksi | 6 Desember 2025


















Komentar