Pematang Siantar – Rangkaian kegiatan menuju Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Pematangsiantar yang ke-155 akan diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa dan Pemuda Simalungun (Himapsi) bersama Tumpuan Damanik Boru Panogolan Siantar-Simalungun (TDBP SS). Acara ini direncanakan berlangsung pada Sabtu, 18 April 2026, bertempat di Monumen Raja Sang Naualuh Damanik.
Kolaborasi antara TDBP SS dan Himapsi ini menghadirkan Pagelaran Budaya dan tradisi Marsombuh Sihol sebagai bentuk kemeriahan menyambut kota tercinta yang genap berusia 155 tahun.

Nico Nathanael Sinaga, Ketua DPC Himapsi Kota Pematangsiantar, menjelaskan bahwa kegiatan dimulai sejak pukul 09.00 WIB dengan berbagai perlombaan yang ditujukan untuk anak-anak dan remaja.
“Untuk tingkat PAUD, akan digelar lomba mewarnai yang bertujuan mengasah kreativitas sejak dini. Sementara untuk tingkat SD, akan diadakan lomba fashion show dengan busana pengantin khas Simalungun, sebuah upaya untuk melestarikan budaya adat sejak usia muda,” terangnya, Rabu (15/4/2026).
Lebih lanjut, untuk tingkat SMP akan digelar lomba pidato dengan tema “Nilai-nilai Kepahlawanan Raja Sang Naualuh Damanik”. Lomba ini diharapkan mampu menanamkan rasa cinta tanah air dan menghormati jasa para pahlawan daerah.

Memasuki malam hari, acara akan semakin semarak dengan penampilan budaya yang dibawakan oleh Sanggar Himapsi dan Sanggar Sinalsal.
“Puncak acara akan diisi dengan kegiatan pagelaran budaya dan Marsombuh Sihol atau yang dikenal dengan istilah ‘Lepas Rindu’, sebuah tradisi bermusyawarah dan berkumpul bersama dalam ikatan kekeluargaan yang erat,” ujar Nico.
“Dengan momentum HUT Kota Pematangsiantar, kami ingin menghidupkan kembali rasa bangga terhadap akar budaya Simalungun. Lewat busana pengantin, pidato kepahlawanan, Marsombuh Sihol, hingga pagelaran budaya, anak-anak muda diajak merayakan sejarah, bukan melupakannya,” pungkasnya.
Senada dengan Nico, Boi Damanik, salah satu pengurus TDBP SS, mengatakan bahwa momentum HUT Kota Pematangsiantar bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan momentum untuk menyampaikan kepada masyarakat luas tentang bagaimana mencintai dan menghargai nilai budaya dan leluhur.
“Monumen Raja Sang Naualuh Damanik bukan sekadar tempat bersejarah. Di sinilah kami memilih untuk memulai gerakan cinta budaya. Lepas Rindu atau Marsombuh Sihol bukan sekadar acara, ini adalah momen di mana anak muda dan orang tua duduk bersama, bernostalgia, dan berkomitmen menjaga Pematangsiantar sebagai kota yang berbudaya dan berkarakter,” ujarnya.
Laporan : Elboing Damanik


















Komentar