HUT ke-155 Pematangsiantar Dibayangi Banjir, BEM Efarina Beri ‘Rapor Merah’ untuk Kinerja Wali Kota

Pematang Siantar4533 Dilihat

PEMATANGSIANTAR – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-155 Kota Pematangsiantar, sorotan tajam justru mengarah pada persoalan banjir yang kembali melanda sejumlah titik di kota tersebut. Kondisi ini memicu kritik keras dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Efarina yang menilai pemerintah daerah belum serius menuntaskan persoalan mendasar masyarakat.

 

Ikuti Kami

Dapatkan Update Berita Tercepat

YouTube
45.2K Subs
Subscribe
WhatsApp
18.5K Followers
Gabung
Telegram
12.3K Members
Join
Facebook
125.4K Fans
Ikuti
Google News
5.4K Readers
Ikuti

Menurut BEM Efarina, banjir yang terus berulang tidak lagi dapat dipandang sebagai bencana musiman, melainkan cerminan lemahnya tata kelola pemerintah dalam pembenahan drainase, pengelolaan tata ruang, serta pembangunan infrastruktur yang berpihak pada kebutuhan warga.

 

Mahasiswa Soroti Kegagalan Prioritas Pembangunan

 

Presiden Mahasiswa Universitas Efarina, Depandes Nababan, menegaskan pemerintah tidak boleh menutup mata terhadap persoalan yang terus berulang setiap tahun.

 

> “Banjir yang terus terjadi di Kota Pematangsiantar merupakan bukti bahwa pemerintah kota gagal menjadikan kebutuhan dasar masyarakat sebagai prioritas pembangunan. Jangan sampai pemerintah sibuk merayakan hari jadi kota, tetapi lalai memastikan masyarakat terbebas dari persoalan yang sama setiap tahunnya,” tegasnya.

 

 

 

Ia menilai, perayaan HUT kota akan kehilangan makna apabila persoalan fundamental masyarakat tidak segera diselesaikan.

 

> “Jika banjir terus terjadi, maka yang bertambah bukan hanya usia kota, tetapi juga daftar kegagalan pemerintah dalam menjawab kebutuhan rakyat,” tambahnya.

 

 

 

Momentum HUT Dinilai Harus Jadi Evaluasi

 

BEM Universitas Efarina menilai momentum HUT ke-155 seharusnya menjadi titik evaluasi menyeluruh terhadap kinerja pemerintah daerah, bukan sekadar seremoni tahunan.

 

Menurut mereka, bertambahnya usia kota seharusnya menjadi indikator kemajuan pelayanan dan pembangunan. Namun bila banjir masih menjadi persoalan rutin, maka ada masalah serius dalam tata kelola kota yang perlu diakui dan dibenahi.

 

Desak Pembenahan Konkret

 

Mahasiswa mendesak Pemerintah Kota Pematangsiantar segera mengambil langkah konkret, mulai dari pembenahan sistem drainase, penataan infrastruktur, hingga penyelesaian persoalan banjir secara menyeluruh.

 

BEM Universitas Efarina juga menegaskan akan terus mengawal kebijakan pemerintah serta menyuarakan kepentingan masyarakat agar pembangunan kota benar-benar dirasakan manfaatnya.

 

> “Masyarakat tidak membutuhkan seremoni, masyarakat membutuhkan solusi.”

 

 

 

Pernyataan itu menjadi penegasan sikap mahasiswa yang bahkan memberi “rapor merah” terhadap kinerja pemerintah kota di tengah momentum peringatan hari jadi Pematangsiantar.

 

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan resmi dari Pemerintah Kota Pematangsiantar terkait kritik yang disampaikan BEM Universitas Efarina.

 

(Josep Opranto Sagala)

Nusantara News Popup - Boss WA

Komentar