OPINI: Jabatan Kepala Desa

Antara Panggilan Pengabdian dan Magnet Dana Desa

Kab.simalungun4695 Dilihat

SIMALUNGUN – Muncul sebuah stigma di tengah masyarakat modern: “Kalau Dana Desa dihapus, siapa lagi yang mau jadi Kepala Desa?” Anggapan ini seolah menempatkan jabatan pemimpin desa hanya sebatas urusan “proyek” dan pengolahan anggaran. Namun, jika kita menelisik sejarah, pandangan tersebut adalah kekeliruan besar yang harus segera diluruskan.

Menoleh ke Belakang: Pengabdian Tanpa Siltap Melimpah

Mari kita tarik garis waktu ke puluhan tahun silam. Saat itu, Dana Desa (DD) belum lahir. Penghasilan Tetap (Siltap) kepala desa bahkan hanya berkisar puluhan ribu rupiah—angka yang jauh dari kata cukup untuk gaya hidup mewah.

Ikuti Kami

Dapatkan Update Berita Tercepat

YouTube
45.2K Subs
Subscribe
WhatsApp
18.5K Followers
Gabung
Telegram
12.3K Members
Join
Facebook
125.4K Fans
Ikuti
Google News
5.4K Readers
Ikuti

Namun faktanya, setiap kali kontestasi pemilihan kepala desa digelar, antusiasme warga untuk mencalonkan diri tetap meledak. Pertarungan ide dan pengaruh di tingkat desa selalu ramai dan penuh gengsi. Mengapa demikian? Jika bukan karena uang, lantas apa yang mereka kejar?

Bukan Soal Angka, Tapi Soal Moral

Jawabannya sederhana namun mendalam: Moral Kepemimpinan. Dahulu, menjadi kepala desa adalah soal kehormatan (marwah).

  • Tanggung Jawab Sosial: Ada rasa bangga saat dipercaya warga untuk mengayomi dan menyelesaikan sengketa di akar rumput.

  • Kepedulian Lingkungan: Pemimpin lahir dari rahim keresahan melihat desanya tertinggal, bukan melihat besarnya alokasi anggaran yang turun dari pusat.

Jabatan kepala desa adalah mandat moral, bukan profesi pencari cuan.

Tantangan Era Kini: Menjaga Marwah di Tengah Godaan

Kehadiran Dana Desa saat ini seharusnya menjadi alat untuk mempercepat kemakmuran rakyat, bukan menjadi alasan utama orang berebut kursi kekuasaan. Sangat miris jika hari ini motivasi mencalonkan diri bergeser dari “ingin melayani” menjadi “ingin mengelola anggaran”.

Kepala desa adalah ujung tombak pembangunan yang paling dekat dengan rakyat. Jika minat menjadi pemimpin turun hanya karena dana berkurang, maka patut dipertanyakan: Apakah dia benar-benar ingin membangun desa, atau hanya ingin membangun pundi-pundi pribadi?

Kesimpulan

Kualitas seorang pemimpin desa tidak ditentukan oleh seberapa besar dana yang dia kelola, melainkan seberapa besar manfaat yang dirasakan warga dari kehadirannya. Mari kita kembalikan marwah kepemimpinan desa ke fitrahnya: Pengabdian tulus tanpa embel-embel rupiah.


Penulis: Dewan Redaksi Nusantara News Today 🖋️

Tag: #DanaDesa #KepalaDesa #Kemendesa #MoralPemimpin #NusantaraNewsToday


Nusantara News Popup - Boss WA

Komentar