OPINI TAJAM: Dana Desa “Disedot” untuk Cicilan Mobil India,

Kemandirian Desa Sedang Digadai?

Jakarta4561 Dilihat

JAKARTA – Sebuah kebijakan fiskal yang memicu kontroversi besar tengah bergulir di pusat kekuasaan. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, baru saja mengonfirmasi bahwa pengadaan 105.000 unit mobil pickup asal India untuk operasional Kopdes Merah Putih akan dibiayai melalui pinjaman bank-bank BUMN (Himbara) senilai triliunan rupiah. Namun, yang menjadi “hantaman” bagi logika publik adalah sumber pembayarannya: Dana Desa, Sabtu (28/02/2026).

Akrobat Anggaran: Memindahkan Beban ke Pundak Desa

Melalui PMK Nomor 7 Tahun 2026, pemerintah secara resmi mengalihkan 58,03% atau setara Rp34,57 triliun dari total Dana Desa 2026 untuk mendukung program terpusat Kopdes Merah Putih. Artinya, lebih dari separuh jatah uang rakyat desa kini “dipaksa” menjadi mesin pembayar angsuran proyek nasional, termasuk cicilan mobil impor dan pembangunan gudang.

Ikuti Kami

Dapatkan Update Berita Tercepat

YouTube
45.2K Subs
Subscribe
WhatsApp
18.5K Followers
Gabung
Telegram
12.3K Members
Join
Facebook
125.4K Fans
Ikuti
Google News
5.4K Readers
Ikuti

Secara edukatif, pemerintah berdalih bahwa ini tidak menambah beban APBN. Namun, dalam perspektif politik fiskal, ini adalah bentuk pemindahan beban. Analoginya sederhana: “Saya tidak menambah cicilan baru, saya hanya memotong uang sekolah anak saya untuk membayar kredit mobil.”


Hantaman Jurnalisme Nurani: Utang untuk Anak Cucu

Pimpinan Umum Nusantara News Today, Fernando Albert Damanik, memberikan catatan kritis yang sangat keras terhadap kebijakan ini.

“Dana Desa awalnya lahir sebagai instrumen kemandirian agar desa bisa membangun sesuai kebutuhan lokalnya. Namun sekarang, desa justru diperalat menjadi penanggung utang proyek terpusat yang kualitasnya pun dipertanyakan. Jika polanya seperti ini, kita sedang mewariskan gunungan utang bagi anak cucu kita demi program yang tidak menyentuh akar rumput,” tegas Fernando.

Program “Siluman” dan Ancaman Karir Pemimpin

Suara-suara sumbang di lapangan menyebut bahwa program ini terkesan dipaksakan dan kurang berkualitas. Muncul kekhawatiran bahwa para pembisik di lingkaran kekuasaan sengaja mendorong agenda yang berisiko menjatuhkan reputasi pemerintah di mata rakyat desa.

Bagaimana mungkin program nasional dibebankan pada pos yang seharusnya menjadi hak otonomi desa? Efisiensi yang digembar-gemborkan pemerintah justru terasa seperti “penyunatan” hak pembangunan infrastruktur dasar di pelosok Nusantara.

Edukasi: Keuangan Negara dan Perspektif Rakyat

Publik harus cerdas melihat bahwa istilah “netral secara akuntansi” belum tentu adil secara sosial. Saat Dana Desa dialihkan hingga lebih dari 50%, maka ribuan desa akan menjerit karena hilangnya anggaran untuk jalan lingkungan, irigasi, dan pemberdayaan ekonomi lokal yang mandiri.

Nusantara News Today akan terus mengawal transparansi penggunaan Dana Desa ini. Jangan sampai uang rakyat desa habis hanya untuk membayar bunga bank dan operasional proyek yang dikendalikan oleh segelintir elite di Jakarta.


Editor: Fernando Albert Damanik 🖋️

Laporan: Unit Analisis Fiskal & Ekonomi Rakyat

Nusantara News Popup - Boss WA

Komentar