Melawan Arogansi Kuasa, Menjaga Marwah Sejarah Simalungun

opini, OPINI DESA4773 Dilihat

Oleh: St. Ramson Damanik

(Catatan Awal Tahun – 6 Januari 2026)


Mengawali tahun 2026, kita dihadapkan pada sebuah realitas pahit mengenai perilaku birokrasi yang memprihatinkan. Sikap segelintir orang yang merasa memiliki kuasa telah menggeser nilai-nilai etika dan moral ke titik terendah. Ada kecenderungan menghalalkan segala cara demi memuaskan ambisi pribadi, tanpa memikirkan luka hati pihak lain. Perilaku egois seperti ini tidak boleh dibiarkan, karena hanya akan menebal sekat perpecahan di tengah masyarakat kita.

Ikuti Kami

Dapatkan Update Berita Tercepat

YouTube
45.2K Subs
Subscribe
WhatsApp
18.5K Followers
Gabung
Telegram
12.3K Members
Join
Facebook
125.4K Fans
Ikuti
Google News
5.4K Readers
Ikuti

Bukan Sekadar Masalah Pribadi

Pergantian nama Balai Harungguan Drs. Djabanten Damanik bukanlah sekadar urusan personal atau sentimen marga semata. Kebijakan penetapan nama tersebut lahir dari sebuah pengakuan negara dan rakyat atas jasa serta karya nyata yang telah teruji.

Drs. Djabanten Damanik bukan sosok sembarangan. Beliau adalah:

  • Mantan Bupati Simalungun selama 2 periode.

  • Mantan Walikota Pematangsiantar selama 1 periode.

  • Pemangku berbagai jabatan strategis di Pemerintahan Pusat dan Daerah.

  • Tokoh Nasional sekaligus Tokoh Masyarakat Simalungun yang mewakili identitas lintas etnis, adat, budaya, dan marga.

Penetapan nama beliau pada Balai Harungguan tentu telah melalui pengkajian mendalam dan kesepakatan para pemangku kepentingan (stakeholders). Maka, sangatlah tidak etis dan tidak pada tempatnya jika nama tersebut dicabut hanya demi menunjukkan “otot” kekuasaan.

Menghormati Tanpa Harus Menghapus

Setiap tokoh besar memiliki tempatnya masing-masing di panggung sejarah. Nama Balai Harungguan Drs. Djabanten Damanik selayaknya tetap ada pada tempatnya sebagai bentuk konsistensi sejarah.

Sementara itu, penghormatan kepada Pahlawan Nasional Tuan Rondahaim Saragih Garingging tentu sangat kita dukung sepenuhnya. Namun, penghargaan tersebut seharusnya dicarikan tempat lain yang sama baiknya dan representatif. Menghormati satu pahlawan tidak harus dengan cara menghapus jejak pahlawan lainnya.

Harapan untuk Masa Depan Simalungun

Kedua tokoh ini—baik Drs. Djabanten Damanik maupun Tuan Rondahaim Saragih—bukan lagi milik kelompok atau marga tertentu saja. Mereka adalah milik seluruh rakyat Simalungun.

Mari kita kedepankan cara-cara yang beradab dan beretika dalam mengelola daerah. Jangan korbankan persatuan demi ego sesaat. Biarkan sejarah tetap pada jalurnya, agar generasi mendatang belajar tentang cara menghargai, bukan cara menghapus jasa para pendahulu.


Catatan ini merupakan refleksi mendalam atas kondisi sosial-politik Simalungun di awal tahun 2026.

Habonaran Do Bona!


Nusantara News Popup - Boss WA

Komentar