Jembatan Titi Gantung, saksi bisu sejarah Kota Medan, kembali menorehkan kisah kelam pada malam Minggu (16/11/2025). Sebuah duel maut yang dipicu oleh dendam berulang di meja tuak berakhir tragis. Erik (35) tewas bersimbah darah setelah lehernya digorok menggunakan serpihan kaca neon oleh rekannya sendiri, Bobby (38).
Peristiwa ini terjadi setelah keduanya menenggak tuak di Gang Buntu, Jalan Jawa, persis di sebelah Kantor Lurah. Menurut keterangan yang dihimpun, Bobby telah berulang kali menjadi sasaran ejekan, makian, dan penghinaan dari Erik.
Puncak Amarah di Bawah Rembulan
“Korban (Erik) memang sering menghina pelaku (Bobby). Malam itu, makiannya lebih tajam dan menyakitkan,” ujar sumber kepolisian.
Puncak ketegangan terjadi sekitar pukul 23.00 WIB. Bobby, yang tak tahan lagi dengan perlakuan Erik, meninggalkan meja tuak dalam kondisi emosi memuncak. Ia berjalan sempoyongan menuju Jembatan Titi Gantung, ikon kolonial yang kini membentang di atas rel kereta api.
Dalam kondisi gelap mata, Bobby memecahkan bola lampu neon di atas jembatan. Sesaat kemudian, ia meneriaki Erik.
Erik menyusul, bukannya mereda, ia justru datang membawa sebongkah batu dan langsung melemparkannya ke bahu Bobby. Duel tak terhindarkan. Dua sahabat yang tersulut amarah tuak itu bergumul di atas beton jembatan.
Kaca Neon Jadi Senjata Pembunuh
Dalam pergulatan sengit, Bobby berhasil meraih serpihan kaca neon yang tadi ia pecahkan. Hanya dalam hitungan detik, pecahan tajam itu diarahkan ke leher Erik.
“Kaca itu menembus leher korban. Dia langsung terhuyung dan meninggal di tempat,” terang Kapolsek Medan Timur, Kompol Agus M Butarbutar, saat dikonfirmasi hari ini.
Saat tim identifikasi tiba, Erik ditemukan tak bernyawa. Di lokasi, polisi mengamankan barang bukti berupa batu, sepasang sandal korban, dan pecahan kaca neon yang berlumuran darah.
Bobby langsung diamankan tak lama setelah kejadian. Kepada penyidik, ia mengakui perbuatannya.
“Motifnya murni sakit hati dan dendam yang dipendam lama. Ini bukan perkelahian biasa, ini akumulasi rasa sakit,” tegas Kompol Agus.
Atas perbuatannya, Bobby kini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya dan dijerat dengan pasal pidana berat yang mengancamnya dengan hukuman penjara bertahun-tahun. Pergulatan dua sahabat di bawah pengaruh minuman keras ini menjadi pelajaran pahit: luka hati bisa jauh lebih mematikan dari senjata paling tajam.
(Redaksi)

















