Guru dan Dosen: Aset Strategis, Bukan Beban Negara

Oleh: Joan Berlin Damanik, SSi, MM

Pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang menyebut gaji guru dan dosen sebagai beban fiskal menuai reaksi keras publik. Narasi itu berpotensi menimbulkan kesalahpahaman seolah-olah tenaga pendidik hanya faktor penguras anggaran negara. Padahal, dalam kerangka pembangunan nasional, guru dan dosen justru adalah aset strategis yang tidak ternilai dalam menentukan arah masa depan bangsa.

Ikuti Kami

Dapatkan Update Berita Tercepat

YouTube
45.2K Subs
Subscribe
WhatsApp
18.5K Followers
Gabung
Telegram
12.3K Members
Join
Facebook
125.4K Fans
Ikuti
Google News
5.4K Readers
Ikuti

Belanja pendidikan, termasuk gaji pendidik, semestinya ditempatkan sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar pengeluaran rutin. Teori human capital yang dipelopori Theodore Schultz dan Gary Becker menegaskan: investasi dalam pendidikan menghasilkan peningkatan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. Artinya, setiap rupiah yang dialokasikan untuk kesejahteraan pendidik akan kembali dalam bentuk SDM unggul, inovatif, dan kompetitif.

Belajar dari Dunia

Banyak negara membuktikan bahwa kesejahteraan pendidik berbanding lurus dengan kemajuan bangsa. Finlandia, misalnya, menempatkan profesi guru sebagai salah satu yang paling bergengsi, dengan gaji layak dan penghormatan sosial tinggi. Tidak heran, kualitas pendidikan mereka selalu berada di puncak dunia.

Korea Selatan pascaperang bahkan menjadikan pendidikan sebagai mesin kebangkitan nasional; guru ditempatkan setara pejabat tinggi negara. Sebaliknya, di Indonesia, kesejahteraan guru dan dosen masih kerap diperdebatkan, bahkan diseret ke ranah sempit persoalan fiskal.

Multiplier Effect

Menghargai guru dan dosen bukan hanya soal gaji, tetapi efek gandanya (multiplier effect). Pendidik yang sejahtera akan lebih termotivasi, melahirkan proses belajar-mengajar berkualitas, dan menghasilkan lulusan yang mampu bersaing di tingkat global. Efek positif ini menjalar pada pertumbuhan ekonomi, stabilitas sosial, hingga kemajuan peradaban bangsa.

Karena itu, narasi bahwa gaji guru dan dosen adalah beban negara perlu segera diluruskan. Pemerintah dan parlemen seharusnya menempatkan pendidik sebagai mitra strategis pembangunan, bukan sekadar pos anggaran yang harus ditekan. Ironis bila kenaikan gaji anggota legislatif dapat diproses dengan cepat, sementara kesejahteraan guru dan dosen justru dianggap problem fiskal.

Penutup

Kesimpulannya jelas: guru dan dosen adalah motor utama lahirnya Generasi Emas Indonesia. Menyebut mereka beban sama artinya dengan menafikan fondasi pembangunan bangsa. Pendidikan adalah investasi yang selalu memberi keuntungan jangka panjang, dan penghargaan terhadap pendidik adalah kunci agar Indonesia melangkah menuju masa depan yang lebih bermartabat.

(Penulis adalah Dosen, pemerhati sosial, kebijakan publik dan lingkungan, serta mentor kepemudaan dan kebangsaan.)


 

Nusantara News Popup - Boss WA

Komentar