Gelombang Aksi Mahasiswa & Masyarakat di DPRD Sumut: Tolak Tunjangan Mewah DPR, Ricuh, dan Dugaan Kekerasan Aparat

Medan – Ribuan massa gabungan mahasiswa dan masyarakat menyerbu Gedung DPRD Sumatera Utara di Jalan Imam Bonjol, Medan, Selasa (26/8/2025). Aksi yang digerakkan oleh Aliansi Mahasiswa USU Bersatu ini menuntut agar tunjangan mewah DPR dihapus serta gaji anggota dewan dipatok setara dengan Upah Minimum Kota (UMK) atau Upah Minimum Provinsi (UMP).

Massa beralasan, hanya dengan cara itu wakil rakyat dapat merasakan denyut kehidupan buruh dan pekerja yang selama ini bertahan hidup dengan upah minimum.

Ikuti Kami

Dapatkan Update Berita Tercepat

YouTube
45.2K Subs
Subscribe
WhatsApp
18.5K Followers
Gabung
Telegram
12.3K Members
Join
Facebook
125.4K Fans
Ikuti
Google News
5.4K Readers
Ikuti

Tuntutan Massa: Anti Korupsi & Pro-Rakyat

Selain isu tunjangan, demonstran juga mendesak agar DPR segera mengesahkan RUU Perampasan Aset dan RUU Anti Korupsi sebagai komitmen memberantas korupsi yang disebut masih menjadi “penyakit kronis bangsa”.

Mereka juga menekankan pentingnya transparansi hasil audit BPK dan KPK agar terbuka ke publik, bukan disembunyikan di meja elite. Tak kalah keras, massa menuntut agar anggaran besar yang selama ini habis untuk sosialisasi peraturan (sosper) dan perjalanan dinas DPR dialihkan ke program pro-rakyat, seperti pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial.

Namun, hingga lebih dari satu jam berorasi, Ketua DPRD Sumut, Erni Ariyanti Sitorus, maupun anggota dewan lainnya tak kunjung menemui massa. Situasi pun memanas. Ban dibakar, barikade didobrak, dan massa berusaha masuk ke dalam gedung.


Bentrok Pecah: Water Canon & Dugaan Kekerasan

Kericuhan akhirnya tak terelakkan. Aparat kepolisian yang dikerahkan hingga 800 personel menembakkan water canon, mengepung massa, dan terlibat bentrokan fisik.

Amatan Nusantaranews-Today serta rekaman video yang beredar memperlihatkan adanya dugaan tindak kekerasan aparat. Seorang mahasiswa tampak diseret, kepalanya dijepit dengan paha polisi berbadan tambun berbaju hijau, lalu diinjak keras oleh polisi lain berkemeja biru loreng ungu-putih.

Korban lain, seorang pemuda berkaus merah, bahkan diperlakukan tak manusiawi hingga pakaian dan celananya terlucuti, menyisakan hanya celana dalam. Adegan itu memicu teriakan lantang mahasiswa:

“Kembalikan kawan kami yang kalian tangkap! Kami hanya ingin menyuarakan aspirasi rakyat, kenapa malah disiksa?”

Bentrok berlanjut dengan aksi lempar batu, baku hantam, hingga kejar-kejaran yang merembet ke kawasan vital Sun Plaza.


Kapolda Sumut: Aman, Demi Investasi & Ekonomi

Kapolda Sumut, Irjen Whisnu Hermawan, turun langsung ke lokasi. Ia menegaskan aparat bekerja sesuai prosedur karena massa melewati batas waktu aksi dan merusak fasilitas umum.

“Polri memberi pengamanan sesuai aturan undang-undang sejak pukul 06.00. Jam 18.00 seharusnya bubar. Mereka merusak pagar dan fasilitas umum sehingga dilakukan pembubaran. Ingat, jangan coba-coba mengganggu keamanan Sumatra Utara,” tegas Kapolda.

Namun saat ditanya mengenai jumlah demonstran yang diamankan dan dugaan kekerasan aparat, Kapolda enggan merinci.

“Alhamdulillah, puji Tuhan aman. Karena kita berpikir untuk investasi dan ekonomi. Personel aman. Soal itu (tindak kekerasan), masih dalam proses. Saya sebagai Kapolda tadi juga sudah minta maaf,” katanya menutup wawancara.


Instruksi Mundur: Satu Komando

Di tengah situasi yang makin mencekam, Koordinator Lapangan Mahasiswa USU, Raja Panjaitan, akhirnya menginstruksikan mundur untuk menghindari korban lebih banyak.

“Kawan-kawan dari USU yang menggunakan almamater hijau, tolong satu komando, mundur semua!” serunya tegas.

Instruksi itu langsung dipatuhi ratusan mahasiswa. Meski demikian, ketegangan di sekitar gedung dewan belum sepenuhnya reda hingga malam.


lapoaran : Hendra/tim


 

Nusantara News Popup - Boss WA

Komentar