Mengaum Seperti Singa yang Terluka – Menjaga Marwah Tanpa Dendam

opini, OPINI DESA4892 Dilihat

Oleh: St. Ramson Damanik

(Catatan II, Suara Hati Awal Tahun – Pematang Simalungun, 8 Januari 2026)


Mengawali langkah di tahun 2026, sebuah tanya besar menggelitik nurani kita: Apa yang harus dilakukan ketika harga diri kita diinjak? Menjaga “hubungan baik” dengan penguasa atau mereka yang merasa masih berkuasa bukanlah jawaban mutlak ketika ada luka mendalam yang harus disembuhkan.

Ikuti Kami

Dapatkan Update Berita Tercepat

YouTube
45.2K Subs
Subscribe
WhatsApp
18.5K Followers
Gabung
Telegram
12.3K Members
Join
Facebook
125.4K Fans
Ikuti
Google News
5.4K Readers
Ikuti

Perbuatan mereka—yang dengan sengaja menjatuhkan kita sampai terjerembab—sungguh tidak sepadan dengan segelintir jabatan yang sedang dijaga dan dipertahankan. Kita terluka, namun atas nama persatuan dan kebersamaan, tidaklah salah jika kita “meminta tolong” untuk dibantu berdiri tegak kembali. Kita memaafkan, meski mungkin tak sanggup melupakan.

Membakar Rumah Orang Lain

Seluruh keluarga besar Damanik, Boru, dan Panogolan di penjuru dunia kini merasa terusik. Penghapusan dan penggantian nama Balai Harungguan Drs. Djabanten Damanik adalah tindakan yang merendahkan. Ini ibarat seseorang yang dengan sengaja “membakar rumah” orang lain, lalu dengan angkuhnya berniat membangun kembali di atas puing-puing itu sambil mengklaim bahwa itu adalah rumah mereka.

Kini, kita sedang diuji:

  • Apakah kita akan diam seribu bahasa demi menjaga hubungan baik atau demi mengamankan jabatan?

  • Ataukah kita akan mengaum seperti singa yang terluka?

Jangan Biarkan Menjadi “Api dalam Sekam”

Jika hari ini kita membiarkan perlakuan seperti ini, besok apa lagi yang akan mereka rampas? Hati boleh panas, namun kepala harus tetap dingin. Kita tidak boleh melakukan pembiaran. Pembiaran hanya akan menciptakan “bom waktu” atau “api dalam sekam” yang pada akhirnya akan merusak dan melukai diri sendiri maupun orang-orang di sekitar kita.

Bukan Balas Dendam, Tapi Etika

Kita tidak perlu menunggu sampai kita kembali menjadi penguasa untuk mengembalikan keadaan. Sebab, jika kita melakukan hal yang sama di masa depan—mengganti nama tersebut kembali saat kita berkuasa—maka kita tak ada bedanya dengan mereka. Itu namanya balas dendam, dan itu hanya akan menyakiti pihak lain sebagaimana mereka menyakiti kita hari ini.

Kita ingin masalah ini selesai secara beretika dan beradab. Kita ingin keadilan tegak saat ini juga, bukan melalui siklus dendam kekuasaan.

Seruan Persatuan

Mari kita selesaikan persoalan ini dengan menjunjung tinggi falsafah luhur kita: “Habonaran Do Bona” (Kebenaran adalah Pangkal). Mari kita bergerak dengan sikap “Sapangambei Manoktok Hitei” (Bergandeng tangan secara serasi menuju satu tujuan).

Jangan diam! Karena diam dalam ketidakadilan adalah bentuk pengkhianatan terhadap jasa para pendahulu.


Ditulis di Kompleks Kantor Bupati Lama, Jl. Sangnaualuh, Pematang Simalungun.


Nusantara News Popup - Boss WA

Komentar