“Sehari Kota Medan Lumpuh: Ketika Infrastruktur Gagal Menghadapi Intensitas Cuaca Ekstrem”

Oleh: Joan Berlin Damanik,SSi. MM.

Pendahuluan

Hujan deras yang mengguyur Kota Medan pada 27 November 2025 kembali menyingkap kelemahan mendasar dalam tata kelola lingkungan perkotaan. Banjir meluas di berbagai kawasan seperti Medan Johor, Medan Amplas, Medan Maimun, Medan Sunggal, Padang Bulan, serta jalur ringroad hingga Kapten Muslim. Di sejumlah titik, ketinggian air mencapai 60–200 cm, menghambat pergerakan kendaraan, merusak permukiman, dan membuat sebagian warga harus meninggalkan rumah mereka sementara waktu.

Ikuti Kami

Dapatkan Update Berita Tercepat

YouTube
45.2K Subs
Subscribe
WhatsApp
18.5K Followers
Gabung
Telegram
12.3K Members
Join
Facebook
125.4K Fans
Ikuti
Google News
5.4K Readers
Ikuti

Faktor Cuaca yang Memicu Banjir

Skala banjir kali ini tidak semata-mata disebabkan oleh hujan lokal. Informasi dari BMKG menunjukkan bahwa dua fenomena atmosfer berperan besar. Bibit Siklon 95B yang berlokasi di Selat Malaka menstimulasi pembentukan awan konvektif yang meluas dari Aceh hingga Sumatera Utara. Sementara itu, Siklon Tropis KOTO di Laut Sulu memperkuat curah hujan melalui perubahan arah angin dan penarikan massa udara lembap ke pusat siklon. Kombinasi kedua sistem cuaca tersebut menciptakan hujan sangat deras dalam durasi singkat—lebih besar daripada kapasitas penyaluran air di kota.

Masalah Tata Ruang dan Lingkungan yang Terabaikan

Meski faktor meteorologis berperan, akar persoalan justru terletak pada praktik pembangunan kota yang tidak berkelanjutan. Alih fungsi lahan menjadi bangunan komersial maupun perumahan padat dilakukan tanpa perhitungan peningkatan kapasitas drainase. Sungai Babura dan Sungai Deli mengalami penyempitan akibat sedimentasi serta bangunan liar yang menggerus daya tampung aliran air. Ruang terbuka hijau yang minim juga menyebabkan berkurangnya area resapan, membuat air hujan langsung mengalir ke permukaan dan mempercepat terbentuknya banjir.

Permasalahan Drainase dan Pola Pengelolaan Sampah

Selain menjadi korban tata ruang buruk, sistem drainase kota terus-menerus tersumbat oleh sampah rumah tangga. Walau pemerintah melakukan pengerukan dan pembersihan hampir setiap tahun, upaya tersebut belum mampu menahan laju kerusakan lingkungan yang terjadi jauh lebih cepat. Ketidakseimbangan antara pemeliharaan drainase dan pertumbuhan kota membuat banjir tampak seperti bencana yang tak terelakkan.

Pentingnya Perubahan Strategi Penanganan

Peristiwa banjir besar ini seharusnya menjadi sinyal keras bahwa solusi darurat seperti pemasangan pompa atau pembersihan saluran tidak lagi memadai. Kota Medan membutuhkan perubahan mendasar berupa:
penataan ruang yang mengutamakan konservasi air dan perlindungan DAS,
pemulihan sungai secara menyeluruh,
sistem peringatan dini yang mengandalkan data meteorologis real time,
penguatan kesadaran publik tentang pentingnya pengurangan sampah dan pemeliharaan lingkungan.

Penutup
Banjir 27 November bukan sekadar kejadian rutin musim hujan, melainkan tanda bahaya bahwa Medan sedang menuju kondisi yang lebih rentan jika pola pembangunan tidak diperbaiki. Intensitas cuaca ekstrem diprediksi semakin meningkat, dan tanpa transformasi tata kota yang visioner, risiko banjir yang lebih parah akan terus menghantui. Kota Medan memerlukan langkah korektif sekarang—sebelum seluruh wilayah benar-benar lumpuh akibat kelalaian yang berulang.
(Penulis : Akademisi dan Pemerhati lingkungan dan Kebijakan Publik)

Komentar