Demi Simalungun, Andry Napitupulu Tak Gentar Dipolisikan Silverius Bangun Terkait Pengadaan Seragam Olahraga

Kab.simalungun4797 Dilihat

Media NusantaraNews-Today.com | Kabupaten Simalungun – Andry Napitupulu, Pimpinan Aksi Gerakan Mahasiswa Merdeka untuk Rakyat, menegaskan dirinya tidak gentar meski dilaporkan ke polisi oleh Silverius Bangun terkait pengadaan seragam olahraga. Ia menilai langkah hukum tersebut sebagai bentuk intimidasi terhadap kebebasan berpendapat.

Dalam aksinya pada Jumat (12/9/2025) di Kantor Kejaksaan Simalungun, Andry mengaku sudah mengikuti prosedur yang sah. “Kami melakukan aksi berdasarkan laporan pengaduan masyarakat pada 21 Juli 2025 tentang dugaan tindak pidana korupsi dan KKN. Karena sudah 52 hari tidak ada kepastian hukum, maka kami turun ke jalan sebagai bentuk kekecewaan,” ujarnya, Senin (15/9/2025).

Ikuti Kami

Dapatkan Update Berita Tercepat

YouTube
45.2K Subs
Subscribe
WhatsApp
18.5K Followers
Gabung
Telegram
12.3K Members
Join
Facebook
125.4K Fans
Ikuti
Google News
5.4K Readers
Ikuti

Andry menegaskan bahwa unjuk rasa yang ia lakukan dilindungi konstitusi. “UUD 1945 pasal 28E menjamin hak setiap warga untuk berkumpul dan menyampaikan pendapat. Itu yang kami jalankan,” katanya.

Terkait tuduhan pencemaran nama baik, Andry membantah keras menyebut nama lengkap siapapun, termasuk Silverius Bangun. “Saya hanya menyebut inisial SB, WS, dan WS dalam orasi maupun selebaran aksi. Silakan dicek dokumentasi siaran langsung saya di Facebook. Nama Silverius Bangun tidak pernah saya sebut,” tegasnya.

Meski demikian, ia mengaku telah menerima surat somasi dari kantor advokat Rendi Associates yang mewakili Silverius Bangun. Somasi itu menyebut kliennya dirugikan akibat aksi unjuk rasa dan postingan Facebook Andry pada 13 September 2025.

Andry menyatakan bingung dengan langkah Silverius. “Kenapa tiba-tiba bang Silverius membuat narasi aneh dan ikut campur? Saya curiga ada pihak yang kepanasan dan memanfaatkan situasi,” katanya.

Ia menegaskan bahwa perjuangannya murni tanpa kepentingan pihak lain. “Saya tidak ada tekanan atau titipan. Ini murni idealisme. Jangan asal menuduh saya ditunggangi,” tandasnya.

Andry juga mengaku tak gentar dengan ancaman kriminalisasi. “Saya sudah pernah alami ancaman, bahkan orang tua saya ikut diintimidasi. Tapi saya tidak takut jeruji besi. Keistimewaan mahasiswa itu idealisme. Bagi saya, akhir perjuangan bukan penjara, melainkan kematian,” pungkasnya.

✍️ Josep Opranto Sagala


 

Komentar