Jeneponto, Sulawesi Selatan –
Serma (Purn) Mustari Baso, purnawirawan Kopassus berusia 82 tahun, kini menjalani hari-harinya dalam keterbatasan, setelah ditelantarkan oleh keluarga sendiri. Ia tinggal di sebuah ruangan sempit berukuran 2×2 meter di rumah kerabatnya, H. Jalling, di Dusun Kunjung Mange, Desa Kaluku, Kecamatan Batang, Kabupaten Jeneponto
Mantan prajurit elite ini pernah menjalani operasi di Timor Timur, Irian Barat, dan penumpasan gerakan komunis pada era Orde Baru. Mustari mengenang bahwa ia pernah bertugas langsung di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto dan Jenderal Prabowo Subianto.
Setelah pensiun dari Kodim 1411 Bulukumba pada 1992, Mustari sempat tinggal dengan keluarga. Namun hidupnya berubah tragis ketika istrinya pergi, diikuti anaknya yang mengambil lebih dari Rp 100 juta uang pensiunnya – kemudian menghilang begitu saja. Mustari pun hidup tanpa arah, sempat tidur di kolong jembatan Bantaeng dan bertahan di Terminal Malengkeri Makassar selama seminggu hanya dengan membawa sebuah ransel berisi pakaian dan kartu pensiun TNI
Suatu malam, Mustari tiba di kediaman keluarga H. Jalling. Baru keesokan paginya sang keluarga menyadari bahwa tamu sepuh tersebut adalah purnawirawan Kopassus. Sejak itu, ia tinggal di sana selama dua tahun tanpa kunjungan atau kabar dari keluarga kandungnya.
Pelda Alimuddin dari Koramil Batang memastikan status Mustari sebagai anggota Kopassus Grup 1 Cijantung dan pensiunnya dari Bulukumba pada 1992. Kapolsek Batang, Iptu Purwanto, menyebut kondisi Mustari saat ini menjadi perhatian pihak kepolisian secara kemanusiaan, meskipun bantuan formal masih minim
Mustari tetap mempertahankan kehormatannya sebagai prajurit. Ia menjaga jaket loreng kebanggaannya dan kartu pensiun sebagai simbol kehormatan masa baktinya kepada bangsa
Profil Singkat Serma (Purn) Mustari Baso
Nama lengkap: Mustari Karaeng Baso
Tanggal lahir: 5 Februari 1943
Karier militer: Anggota RPKAD (Resimen Para Komando, kini Kopassus); bertugas di Timor Timur, Irian Barat, dan operasi penumpasan Komunis
Pensiun: 25 Februari 1992 dari Kodim 1411 Bulukumba
Status saat ini: Tinggal di kamar 2×2 meter di rumah kerabat sejak dua tahun terakhir, tanpa dukungan keluarga kandung
Harapan dan Panggilan Kemanusiaan
Kisah ini mengingatkan kita bahwa keberanian dan pengabdian seorang veteran tidak selalu berujung pada penghargaan saat tua. Meski mengalami penelantaran dari orang terdekat, Mustari tetap menjaga identitas dan martabatnya sebagai prajurit.
Keluarga Jalling bahkan telah membantu membuatkan KTP baru bagi Mustari sebagai bukti bahwa ia tak sepenuhnya kehilangan identitas hukum serta sosial. Kesederhanaan belas kasih dari kerabat membuat Mustari masih memiliki tempat di dunia nyata.
Semoga kisah ini menjadi peringatan bagi pemerintah dan masyarakat luas: mereka yang telah mengabdi pada negara, khususnya prajurit satuan elite seperti Kopassus, layak mendapatkan penghormatan, rumah layak, dan perlindungan hak-hak pensiun di masa tua.
Menjadi harapan, melalui liputan ini suara Mustari Baso bisa didengar. Kiranya pemerintah dan organisasi purnawirawan dapat mendukung veteran seperti dia agar tidak melanjutkan hidup terlunta di masa senja.















Komentar