Jalan Simpang Sigonrang–Nagori Lokkung Sudah Dicor, Petani Mengeluh: Dua Minggu Terkendala Angkut Hasil Panen

Bagikan:➤☎
Waktu baca 4 menitDiperbarui 5 November 2026, 04:50 WIB

Petani Kesulitan Angkut Panen Akibat Jalan Dicor

SIMALUNGUN – Pengerjaan pengecoran jalan dari Simpang Sigonrang menuju Nagori Lokkung, Kecamatan Raya, Kabupaten Simalungun, yang disebut dilaksanakan oleh Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Kabupaten Simalungun, menuai keluhan dari warga sekitar. Meski pekerjaan pengecoran pada ruas yang terdokumentasikan dilaporkan telah selesai secara fisik, jalan tersebut belum bisa dilalui karena masih dalam proses pengeringan dan pematangan beton.

Kondisi ini bukan sekadar ketidaknyamanan sementara. Bagi warga yang menggantungkan penghidupan dari sektor pertanian, tertutupnya akses jalan selama berminggu-minggu berarti terganggunya rantai distribusi hasil panen yang langsung berdampak pada pendapatan mereka.

Ikuti Kami

Dapatkan Update Berita Tercepat

YouTube
45.2K Subs
Subscribe
WhatsApp
18.5K Followers
Gabung
Telegram
12.3K Members
Join
Facebook
125.4K Fans
Ikuti
Google News
5.4K Readers
Ikuti

Marga Purba: Sudah Dua Minggu Warga Sulit Melintas

Salah seorang warga setempat, Marga Purba, mengungkapkan keluhannya kepada redaksi. Menurutnya, selama kurang lebih dua minggu terakhir masyarakat mengalami kendala untuk melintasi jalan tersebut. Hambatan ini berdampak langsung terhadap aktivitas pengangkutan hasil pertanian, maupun kebutuhan sehari-hari warga di sekitar ruas jalan dimaksud.

Lebih jauh, warga juga menyebut bahwa mereka harus menghadapi masa tunggu sekitar 28 hari sebelum jalan dapat dilalui kembali secara normal. Kondisi ini menimbulkan kesulitan tersendiri, terutama bagi para petani yang harus segera mengangkut hasil panen ke tempat penjualan agar tidak rusak atau merugi.

Tidak ada informasi yang diterima warga mengenai apakah tersedia jalur alternatif atau akses sementara selama masa penutupan berlangsung.

Papan Informasi Proyek Tidak Terlihat di Lokasi

Selain keluhan soal akses, masyarakat juga mempertanyakan absennya papan informasi proyek di lokasi pengerjaan. Papan informasi proyek merupakan instrumen transparansi yang diwajibkan dalam setiap pekerjaan yang bersumber dari anggaran pemerintah. Melalui papan tersebut, publik semestinya dapat mengetahui nama paket pekerjaan, nilai kontrak, sumber anggaran, nama pelaksana, serta jangka waktu penyelesaian.

Ketiadaan papan informasi ini memunculkan sejumlah pertanyaan wajar dari masyarakat: dari mana anggaran proyek berasal, berapa nilai pekerjaan, dan siapa kontraktor yang ditunjuk sebagai pelaksana. Pertanyaan-pertanyaan ini belum memperoleh jawaban resmi dari pihak yang berwenang hingga berita ini diterbitkan.

Soal Teknis Beton: Antara Standar Konstruksi dan Dampak Sosial

Dari sisi teknis, waktu pemeliharaan atau curing beton memang merupakan tahapan yang tidak bisa diabaikan. Proses ini diperlukan agar kekuatan beton berkembang optimal sesuai persyaratan mutu yang ditetapkan dalam spesifikasi teknis pekerjaan. Melewati tahap ini dengan tergesa-gesa dapat menurunkan kualitas konstruksi dan memperpendek usia jalan.

Namun demikian, pelaksanaan pekerjaan infrastruktur di kawasan yang masih aktif secara ekonomi semestinya juga mempertimbangkan dampak sosial yang ditimbulkan. Idealnya, sebelum pekerjaan dimulai atau setidaknya bersamaan dengan pelaksanaannya, pihak dinas dan kontraktor telah menyiapkan rencana pengelolaan akses, termasuk opsi jalur alternatif atau akses darurat bagi masyarakat yang terdampak langsung.

Dalam kasus ini, apakah kajian dampak terhadap aktivitas ekonomi warga telah dilakukan sebelum proyek berjalan, dan apakah solusi akses sementara pernah dibicarakan atau direncanakan, menjadi pertanyaan yang perlu dijawab oleh pihak terkait.

Enam Pertanyaan untuk Dinas PU Bina Marga Simalungun

Redaksi Nusantara News Today mendorong Dinas PU Bina Marga Kabupaten Simalungun untuk memberikan klarifikasi terbuka kepada publik atas setidaknya enam hal berikut:

Pertama, apa nama resmi paket pekerjaan jalan Simpang Sigonrang menuju Nagori Lokkung tersebut? Kedua, berapa nilai anggaran yang dialokasikan dan dari mana sumber pembiayaannya, apakah dari APBD Kabupaten Simalungun, APBD Provinsi Sumatera Utara, atau sumber lain? Ketiga, siapa kontraktor atau penyedia jasa yang ditunjuk sebagai pelaksana pekerjaan?

Keempat, apa alasan papan informasi proyek tidak terpasang di lokasi pekerjaan sebagaimana mestinya? Kelima, apakah benar akses jalan harus ditutup penuh selama kurang lebih 28 hari, dan apakah ketentuan ini telah dikomunikasikan kepada warga sejak awal? Keenam, mengapa tidak disiapkan jalur alternatif atau akses sementara bagi masyarakat, terutama petani yang mendesak untuk mengangkut hasil pertanian mereka?

Klarifikasi atas pertanyaan-pertanyaan ini penting tidak hanya untuk menjawab keresahan warga, tetapi juga untuk memastikan bahwa pelaksanaan proyek berjalan sesuai dengan tata kelola pemerintahan yang transparan dan akuntabel.

Pembangunan Harus Hadir sebagai Solusi, Bukan Beban

Pada dasarnya, masyarakat di sekitar Simpang Sigonrang dan Nagori Lokkung tidak menolak pembangunan. Perbaikan infrastruktur jalan tentu menjadi harapan warga sejak lama, mengingat kondisi jalan yang baik akan memperlancar mobilitas dan menekan biaya distribusi hasil pertanian mereka.

Namun harapan itu tidak lantas membenarkan pelaksanaan yang mengabaikan kebutuhan masyarakat selama proses pembangunan berlangsung. Petani tidak bisa menunda masa panen. Hasil bumi tidak mengenal jadwal konstruksi. Ketika akses tertutup tanpa solusi sementara, kerugian ekonomi yang mereka tanggung bersifat nyata dan langsung.

Oleh karena itu, pembangunan infrastruktur yang baik bukan hanya dinilai dari kualitas fisik hasil akhirnya, tetapi juga dari bagaimana proses pelaksanaannya memperlakukan masyarakat yang terdampak. Koordinasi dengan warga, penyediaan informasi yang jelas, serta upaya meminimalkan gangguan terhadap aktivitas ekonomi lokal adalah bagian yang tidak terpisahkan dari tata kelola proyek yang bertanggung jawab.

Redaksi Membuka Ruang Konfirmasi

Hingga berita ini diterbitkan, redaksi Nusantara News Today belum memperoleh pernyataan resmi dari Dinas PU Bina Marga Kabupaten Simalungun maupun dari pihak kontraktor pelaksana. Redaksi tetap membuka ruang konfirmasi dan akan memuat hak jawab serta klarifikasi dari pihak-pihak terkait secara proporsional dan berimbang apabila diterima.

Masyarakat berharap pembangunan yang tengah berjalan ini tidak hanya menghasilkan jalan yang kokoh secara fisik, tetapi juga dilaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab terhadap warga yang setiap harinya bergantung pada akses jalan tersebut untuk menghidupi keluarga mereka.

Pimred: Suleman Sinulingga
Pimpinan Umum: Fernando Albert Damanik

👁️ Dilihat: 1 kali
Gambar Gravatar
Penulis

Redaksi

Tim redaksi Nusantara News Today.

Lihat artikel lainnya
Nusantara News Popup - Boss WA

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Komentar