SIBOLGA – Duka mendalam akibat bencana tanah longsor yang menerjang Kota Sibolga pada Selasa (25/11/2025) diperparah dengan kenyataan pahit yang menusuk hati. Doris (33), warga Jalan Murai, yang kehilangan istri (sedang hamil 5 bulan), anak semata wayangnya, dan tiga adik kandungnya sekaligus (total 5 jiwa), diduga harus menghadapi perlakuan tak manusiawi: dimintai biaya untuk pemulasaraan jenazah keluarganya di rumah sakit.
Kejadian ini memicu pertanyaan besar tentang empati dan kebijakan kemanusiaan Pemerintah Daerah Sibolga di tengah situasi darurat bencana.
Duka Mendalam: Keluarga Doris Tertimbun Tiga Meter
Doris adalah satu-satunya yang selamat dari enam anggota keluarganya yang tertimbun. Ia selamat karena kepergiannya dari rumah pada hari nahas itu adalah atas permintaan terakhir sang istri, Irma Yani Marbun, untuk menunaikan salat Maghrib.
Setelah selesai berdoa, suara dentuman keras yang ia kira petir ternyata adalah longsor besar yang menelan habis rumah peninggalan orang tuanya. Timbunan tanah setinggi tiga meter kini menjadi kuburan bagi seluruh keluarganya.
Doris bahkan harus nekat mencangkul secara manual untuk menemukan jasad salah satu adiknya.
Pungutan Maut: Terpaksa Berutang untuk Kain Kafan
Di tengah kehilangan segalanya, Doris berharap ada keringanan dari institusi negara. Namun, pihak Rumah Sakit Umum (RSU) FL Tobing, Kota Sibolga, diduga tetap membebankan biaya pengurusan jenazah kepada Doris, termasuk untuk kain kafan dan layanan ambulans.
“Sampai ke rumah sakit awak pikir gratis. Rupanya enggak gratis, kain kafan semua dibayar semua. Pada saat itu uang enggak ada, uang tertimbun,” keluh Doris.
Harta bendanya ludes tertimbun longsor. Doris dipaksa meminjam sekitar Rp 3 juta dari tetangga dan kerabat hanya agar bisa membawa pulang dan memakamkan lima jenazah keluarganya.
“Masa pas sudah kejadian musibah kayak gini diminta uang lagi, untuk apa ya kan. Katanya sih kain kafan, memandikan. Kan seharusnya ada belas kasihan terhadap orang yang musibah,” ungkapnya dengan nada kesal.
Kehilangan Segalanya, Berharap Kembali Bekerja
Saat ini, Doris hanya mengungsi di rumah kerabatnya, mengaku tidak memiliki apa-apa lagi selain pakaian yang melekat di badannya selama satu minggu terakhir.
Tragedi ini menyisakan pertanyaan besar: di mana empati dan kebijakan kemanusiaan Pemerintah Daerah Sibolga terhadap korban bencana alam yang sudah kehilangan segalanya? Perlu ada investigasi segera terkait dugaan pungutan liar yang memberatkan korban bencana ini.
(Nusantaranews-Today.Com)


















Komentar