LANGKAT – Maraknya peredaran narkotika di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, memicu reaksi keras dan kritik pedas dari elemen mahasiswa. Dalam sebuah aksi yang mencuri perhatian publik dan kini viral di media sosial, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Langkat secara terbuka menantang Kapolres Langkat melalui sebuah spanduk yang dipasang di ruang publik.
Spanduk berukuran besar yang menampilkan foto Ketua Umum HMI Cabang Langkat, M. Alfi Syahrin, memuat tulisan yang menusuk langsung ke jantung persoalan: “PAK KAPOLRES KOK BANYAK KALI NARKOBA DI LANGKAT INI? KALO BAPAK ENGGAK SANGGUP LAMBAIKAN TANGAN AJA KE KAMERA!”
Pesan ini bukan sekadar protes, melainkan sebuah ultimatum dan refleksi atas kegelisahan publik terhadap kondisi keamanan di Langkat. Kalimat tersebut secara implisit mempertanyakan efektivitas kinerja aparat kepolisian setempat, khususnya dalam memberantas jaringan peredaran narkoba yang dinilai semakin merajalela dan mengancam masa depan generasi muda.
Kritik Menggema di Dunia Maya
Foto spanduk ini dengan cepat menyebar luas di berbagai platform media sosial, terutama melalui akun-akun informasi lokal dan regional. Tagar terkait “Langkat Narkoba” dan “Kapolres Langkat” langsung meroket, menjadi perbincangan panas.
M. Alfi Syahrin, Ketua Umum HMI Cabang Langkat, menegaskan bahwa kritik ini adalah wujud dari kepedulian mahasiswa dan masyarakat yang sudah jengah dengan situasi narkoba di Langkat yang tak kunjung mereda. “Narkoba sudah menjadi penyakit akut di Langkat. Kami melihat peredarannya seolah dibiarkan. Jika pemberantasan hanya menyentuh level pemakai atau pengedar kecil, sementara bandar besar tetap aman, lantas bagaimana masyarakat bisa percaya?” ujarnya dengan nada geram, yang kemudian diabadikan dalam kutipan-kutipan viral.
Ancaman ‘Lambaikan Tangan’ Banjir Komentar
Bagian paling menghantam dari kritik HMI adalah frasa “Lambaikan tangan aja ke kamera!” Frasa ini ditafsirkan sebagai simbol sarkastik yang menyiratkan harapan agar Kapolres Langkat mengakui ketidakmampuannya dalam menanggulangi masalah ini, sekaligus mendesak Kapolri atau Kapolda Sumatera Utara untuk segera mengambil alih dan melakukan evaluasi menyeluruh.
Di kolom komentar media sosial, netizen bergemuruh:
- “Mantap! Ini baru mahasiswa! Jangan cuma nangkepin receh, bandarnya mana? #LangkatBebasNarkoba”
- “Kalau memang sudah maksimal, harusnya narkoba berkurang. Kalau begini, ya wajar dibilang lambaikan tangan. Kami butuh bukti!”
- “Masyarakat Langkat sudah lama resah, terima kasih HMI sudah berani menyuarakan. Semoga Bapak Kapolres merespon dengan tindakan, bukan cuma janji.”
Aksi berani HMI ini langsung menjadi sorotan publik dan viralitasnya menempatkan isu narkoba di Langkat pada tekanan sorotan nasional. Desakan ini menjadi lonceng peringatan bagi Polres Langkat bahwa mata publik, terutama mahasiswa, mengawasi dengan tajam.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak Polres Langkat terkait spanduk dan viralitas yang menantang ini. Publik kini menanti langkah tegas dan konkret dari jajaran kepolisian, bukan hanya sekadar klarifikasi, tetapi bukti nyata bahwa narkoba di Langkat benar-benar akan ditumpas hingga ke akar-akarnya. Jika tidak, “lambaian tangan” itu mungkin akan dianggap sebagai pernyataan sikap yang tak terhindarkan, dan citra institusi akan semakin tergerus oleh derasnya arus kritik di dunia maya.
tim/red











Komentar