RSCM Tegaskan Memori Febiona Purba Baik, Klaim Kehilangan Ingatan 70 Persen Tak Terbukti

Waktu baca 4 menitDiperbarui 17 September 2026, 02:22 WIB

RSCM Berikan Penjelasan Resmi soal Kondisi Neurologis Febiona Purba

JAKARTA — Isu dugaan kehilangan ingatan hingga 70 persen yang sebelumnya dikaitkan dengan kondisi Febiona Purba, siswi asal Kabupaten Karo, Sumatera Utara, akhirnya mendapat penjelasan resmi dari tim dokter spesialis Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Penjelasan ini disampaikan dalam konferensi pers yang digelar di RSCM pada Rabu, 16 September 2026.

Febiona merupakan salah satu dari sejumlah siswi yang dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, pada Agustus 2026. Setelah mendapat penanganan awal di daerah, ia kemudian dirujuk ke RSCM Jakarta bersama Agnesia Paruliana Silitonga pada Sabtu, 12 September 2026, untuk evaluasi medis lebih lanjut.

Ikuti Kami

Dapatkan Update Berita Tercepat

YouTube
45.2K Subs
Subscribe
WhatsApp
18.5K Followers
Gabung
Telegram
12.3K Members
Join
Facebook
125.4K Fans
Ikuti
Google News
5.4K Readers
Ikuti

Hasil Pemeriksaan: Memori Febiona Dinilai Sangat Baik

Dokter Spesialis Anak Konsultan Neurologi Anak RSCM, Prof. Dr. dr. Setyo Handryastuti, menyampaikan secara langsung bahwa hasil pemeriksaan klinis tidak menunjukkan adanya gangguan pada kemampuan mengingat Febiona. Pemeriksaan mencakup penilaian terhadap fungsi memori jangka pendek maupun memori jangka panjang.

“Yang jelas pada saat saya periksa saat ini, ananda ingatannya sangat baik,” ujar Handry dalam konferensi pers tersebut.

Pernyataan ini secara langsung membantah klaim yang sebelumnya beredar di publik mengenai dugaan kehilangan ingatan hingga 70 persen. Berdasarkan evaluasi neurologis yang dilakukan tim RSCM, kondisi memori Febiona tidak mencerminkan gambaran klinis yang sesuai dengan klaim tersebut.

EEG Tidak Tunjukkan Gangguan Aktivitas Otak

Selain pemeriksaan memori, tim dokter RSCM juga melakukan pemeriksaan elektroensefalografi atau EEG, yakni prosedur medis yang digunakan untuk merekam dan mengevaluasi aktivitas listrik pada otak. Hasil pemeriksaan EEG Febiona, menurut Handry, tidak menunjukkan adanya kelainan atau gangguan pada aktivitas otak.

Temuan ini menjadi salah satu dasar penting dalam menilai kondisi neurologis Febiona secara objektif dan berbasis bukti klinis, bukan semata berdasarkan keluhan subjektif yang dilaporkan sebelumnya.

Diagnosis Mengarah pada Paroxysmal Non-Epileptiform Event

Lebih jauh, Handry menjelaskan bahwa evaluasi neurologis secara keseluruhan mengarah pada diagnosis paroxysmal non-epileptiform event. Ini merupakan istilah medis yang merujuk pada suatu episode atau serangan yang muncul secara tiba-tiba, namun bukan merupakan epilepsi dan tidak disertai kerusakan atau gangguan struktural pada organ otak.

“Bukan problem organ dari otak itu sendiri,” jelas Handry dalam pemaparannya.

Penjelasan ini penting untuk dipahami masyarakat. Kondisi paroxysmal non-epileptiform event memiliki berbagai kemungkinan penyebab, termasuk faktor psikologis, respons tubuh terhadap stres, maupun kondisi lain yang tidak selalu berkaitan dengan kerusakan permanen pada otak. Diagnosis ini bersifat berbeda secara signifikan dari gambaran umum yang berkembang di ruang publik mengenai kerusakan otak atau kehilangan memori permanen.

Kondisi Febiona dan Agnesia Terus Membaik

Direktur Medik dan Keperawatan RSCM, Dr. Renan Sukmawan, turut menyampaikan perkembangan kondisi kedua siswi tersebut. Menurutnya, baik Febiona maupun Agnesia Paruliana Silitonga saat ini telah menunjukkan perbaikan kondisi yang signifikan. Keduanya tidak memerlukan perawatan di ruang intensif dan saat ini menjalani perawatan di ruang rawat biasa.

RSCM juga menyebutkan bahwa pihaknya sedang mempersiapkan kemungkinan rawat jalan bagi keduanya, apabila kondisi medis memungkinkan, sehingga mereka dapat kembali berkumpul bersama keluarga dan melanjutkan aktivitas pendidikan mereka.

Pentingnya Informasi Medis yang Proporsional

Penjelasan resmi dari RSCM ini menjadi pengingat penting tentang bagaimana informasi mengenai kondisi medis seseorang perlu disampaikan secara cermat dan proporsional, terlebih ketika menyangkut pasien anak yang tengah dalam proses pemulihan. Perbedaan antara dugaan awal, keluhan yang dirasakan atau dilaporkan pasien, dan hasil pemeriksaan klinis yang sesungguhnya bisa sangat jauh berbeda.

Dalam kasus ini, narasi mengenai kehilangan ingatan 70 persen telah beredar dan mendapat perhatian publik yang luas. Namun hasil evaluasi neurologis di RSCM tidak menemukan bukti medis yang mendukung klaim tersebut. Ini bukan berarti keluhan pasien tidak nyata atau tidak perlu ditangani, melainkan bahwa interpretasi terhadap keluhan tersebut perlu selalu dikembalikan pada hasil pemeriksaan medis yang terstandar dan dilakukan oleh tenaga ahli yang kompeten.

Masyarakat dan media diharapkan dapat menyikapi informasi seputar kondisi korban dengan lebih berhati-hati, terutama sebelum suatu klaim medis memperoleh konfirmasi dari institusi kesehatan yang berwenang. Penyebaran informasi yang belum terverifikasi, terutama yang menyangkut kondisi kesehatan anak, berisiko menimbulkan kepanikan yang tidak perlu sekaligus dapat mempersulit proses pemulihan pasien itu sendiri.

Kasus MBG Karo Masih dalam Proses Penanganan

Perlu dicatat bahwa kasus gangguan kesehatan yang diduga berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis di Kabupaten Karo masih dalam proses penanganan oleh pihak-pihak berwenang. Sesuai dengan prinsip jurnalisme berimbang, dugaan mengenai penyebab gangguan kesehatan yang dialami para siswi — termasuk kemungkinan kaitannya dengan makanan dalam program MBG — hingga kini masih berstatus dugaan dan belum memperoleh kekuatan hukum tetap. Seluruh pihak yang terlibat berhak atas asas praduga tak bersalah selama proses hukum maupun investigasi masih berlangsung.

Penjelasan RSCM terkait kondisi Febiona ini merupakan satu dari rangkaian langkah penanganan medis dan komunikasi publik yang diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jernih dan akurat kepada masyarakat mengenai kondisi nyata para siswi yang tengah menjalani perawatan.

(Red)

Editor: Fernando Albert Damanik

👁️ Dilihat: 4 kali
Gambar Gravatar
Penulis

Suleman Sinulingga

Tim redaksi Nusantara News Today.

Lihat artikel lainnya
Nusantara News Popup - Boss WA

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Komentar