PASCA DEMO 27 AGUSTUS MEMANAS: WARGA DAN MASSA DIDUGA TERLIBAT BENTROK, 5 TRUK DI SLIPI RUSAK

Bagikan:
Waktu baca 4 menitDiperbarui 28 Agustus 2026, 15:02 WIB

JAKARTA – JAKARTA, NusantaraNews-Today.com — Kericuhan yang terjadi setelah demonstrasi di sekitar Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, Kamis (27/8/2026) malam, merembet hingga kawasan Slipi, Kemanggisan, dan Petamburan, Jakarta Barat.

Situasi yang semula merupakan rangkaian ketegangan pascademonstrasi berubah menjadi bentrokan antarkelompok massa. Dalam sejumlah rekaman video yang beredar di media sosial, tampak sekelompok orang yang disebut-sebut berkaitan dengan organisasi kemasyarakatan (ormas) GRIB Jaya berada di tengah situasi ricuh.

Ikuti Kami

Dapatkan Update Berita Tercepat

YouTube
45.2K Subs
Subscribe
WhatsApp
18.5K Followers
Gabung
Telegram
12.3K Members
Join
Facebook
125.4K Fans
Ikuti
Google News
5.4K Readers
Ikuti

Nama GRIB Jaya kemudian menjadi sorotan setelah beredar informasi mengenai dugaan aksi kekerasan terhadap warga di sekitar Petamburan. Namun, hingga saat ini, keterlibatan GRIB Jaya secara kelembagaan dalam aksi kekerasan tersebut masih menjadi hal yang diperdebatkan dan telah dibantah oleh pihak organisasi.

Dugaan Penganiayaan terhadap Warga

Informasi yang beredar menyebutkan, kericuhan bermula ketika rombongan massa yang disebut membawa bambu dan kayu memasuki kawasan sekitar Slipi dan Petamburan dengan menggunakan sejumlah truk.

Dalam rekaman yang beredar di media sosial, terlihat adanya aksi kekerasan terhadap seorang pelajar yang disebut bernama Fatur.

Korban disebut berada di lokasi ketika situasi mulai memanas. Dalam video tersebut tampak seorang pemuda menjadi sasaran kekerasan sejumlah orang. Namun, identitas seluruh pihak yang terlibat serta kronologi lengkap kejadian tersebut masih memerlukan verifikasi dan pendalaman aparat penegak hukum.

Informasi mengenai korban yang disebut sebagai pelajar SMA serta dugaan bahwa ia dipukul menggunakan kayu, diseret, dan ditendang berulang kali belum dapat dijadikan kesimpulan bahwa pelaku merupakan anggota GRIB Jaya secara kelembagaan.

Hal ini penting ditegaskan agar rekaman yang beredar di media sosial tidak serta-merta menjadi dasar untuk menggeneralisasi tindakan individu sebagai tindakan resmi sebuah organisasi.

Dugaan Salah Sasaran Memicu Kemarahan Massa

Kericuhan kemudian berkembang setelah muncul informasi bahwa sejumlah warga dan pengemudi ojek online diduga turut menjadi sasaran kekerasan.

Situasi tersebut memicu kemarahan massa di sekitar lokasi.

Sejumlah warga dan kelompok massa kemudian melakukan pengejaran terhadap rombongan yang berada di dalam kendaraan. Lima unit truk yang berada di kawasan Kemanggisan, Palmerah, Jakarta Barat, akhirnya mengalami kerusakan.

KBO Satlantas Polres Metro Jakarta Barat AKP Sudarmo membenarkan adanya perusakan terhadap lima unit truk tersebut.

Namun, polisi meluruskan informasi yang sebelumnya beredar mengenai adanya pembakaran kendaraan.

“Di Kemanggisan kalau truk yang dibakar tidak ada. Memang ada perusakan, namun tidak ada pembakaran,” kata Sudarmo, Jumat (28/8/2026).

Menurut kepolisian, kerusakan terutama terlihat pada bagian kaca kendaraan. Kelima truk tersebut kemudian dievakuasi untuk mengembalikan kelancaran lalu lintas.

Proses evakuasi dilakukan sekitar pukul 05.30 WIB hingga 07.30 WIB.

Pos Polisi dan Fasilitas Publik Ikut Menjadi Sasaran

Kericuhan tidak hanya berdampak terhadap kendaraan.

Pos Lalu Lintas Slipi yang berada di kawasan Jalan S. Parman, Palmerah, Jakarta Barat, juga mengalami kerusakan.

AKP Sudarmo membenarkan bahwa pos lalu lintas yang berada di bagian tengah maupun sisi jalan mengalami kerusakan akibat aksi massa.

Selain itu, sejumlah separator jalur TransJakarta di kawasan Slipi hingga Tomang juga sempat berantakan akibat kericuhan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa eskalasi kerusuhan telah berdampak pada fasilitas publik dan mengganggu aktivitas masyarakat.

GRIB Jaya: Tidak Ada Keterlibatan Secara Institusi

Di tengah mencuatnya nama GRIB Jaya, organisasi tersebut memberikan bantahan.

Kuasa hukum GRIB Jaya, Wilson Colling, menegaskan bahwa organisasi tersebut tidak terlibat secara kelembagaan dalam kerusuhan pascademonstrasi di depan Gedung DPR/MPR RI.

Colling mengatakan tidak ada instruksi dari Ketua Umum GRIB Jaya, Rosario de Marshall alias Hercules, kepada anggota organisasi untuk mengikuti demonstrasi pada Kamis (27/8/2026).

Sebaliknya, menurut Colling, Hercules meminta anggota GRIB Jaya tidak ikut dalam aksi dan justru membantu menjaga ketertiban.

“Saya mengatakan bahwa GRIB tidak terlibat di dalam kerusuhan tersebut. Secara institusi, kelembagaan ya, kami orang hukum pasti mengetahui jika ada pergerakan-pergerakan seperti itu,” ujar Colling.

Colling juga menyampaikan bahwa GRIB Jaya berpandangan keamanan Jakarta merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat, termasuk organisasi kemasyarakatan.

Dugaan Individu atau Tanggung Jawab Organisasi?

Peristiwa di Slipi dan Petamburan kini menyisakan sejumlah pertanyaan penting.

Jika benar terdapat anggota sebuah organisasi yang melakukan kekerasan terhadap warga, aparat perlu mengusutnya berdasarkan bukti dan identitas pelaku, bukan semata-mata berdasarkan atribut organisasi.

Sebaliknya, apabila tidak terdapat keterlibatan anggota organisasi sebagaimana dituduhkan, klarifikasi dan pembuktian juga diperlukan agar sebuah organisasi tidak menjadi sasaran tuduhan berdasarkan informasi yang belum terverifikasi.

Dalam situasi seperti ini, rekaman video, keterangan saksi, korban, pemilik kendaraan, serta hasil penyelidikan kepolisian menjadi penting untuk memastikan siapa melakukan apa dan dalam konteks apa.

Sebab, kerusuhan tidak boleh berhenti pada perang narasi di media sosial.

Siapa pun pelakunya—warga, massa aksi, maupun individu yang mengatasnamakan organisasi—tetap harus mempertanggungjawabkan tindakannya apabila terbukti melanggar hukum.

Polisi Dituntut Ungkap Aktor Kekerasan

Peristiwa ini sekaligus menjadi ujian bagi penegakan hukum pascademonstrasi.

Publik berhak mengetahui secara terang siapa yang melakukan kekerasan terhadap warga, siapa yang merusak kendaraan, siapa yang merusak fasilitas publik, serta apakah ada hubungan antara para pelaku dengan organisasi tertentu.

Yang tidak kalah penting, proses hukum harus dilakukan secara objektif tanpa menggeneralisasi kesalahan individu kepada seluruh anggota organisasi.

Dengan demikian, kasus kericuhan di Slipi, Kemanggisan, dan Petamburan tidak berhenti sebagai potongan video viral atau saling tuding di media sosial, tetapi dapat terungkap berdasarkan bukti dan proses hukum yang transparan.

GRIB Jaya telah menyatakan tidak terlibat secara institusional. Sementara kerusakan lima truk dan fasilitas publik telah dikonfirmasi kepolisian. Kini, pembuktian mengenai dugaan kekerasan terhadap warga dan identitas para pelaku menjadi bagian penting yang perlu diungkap secara terang oleh aparat penegak hukum.

(Red)

👁️ Dilihat: 1 kali
Gambar Gravatar
Penulis

Suleman Sinulingga

Tim redaksi Nusantara News Today.

Lihat artikel lainnya
Nusantara News Popup - Boss WA

Komentar