SIMALUNGUN – 9 JANUARI 2026 Nusantaranews-Today.com
Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Anak Generasi Indonesia (DPP AGENSI), Fernando Albert Damanik, kembali melayangkan kritik keras terhadap kebijakan Pemerintah Kabupaten Simalungun terkait penghapusan nama Drs. Djabanten Damanik dari Balai Harungguan.
Menurut Fernando, tindakan yang dilakukan tanpa dialog publik ini merupakan cerminan nyata dari arogansi kekuasaan yang berpotensi memutus rantai ingatan kolektif masyarakat Simalungun terhadap tokoh-tokoh yang telah berjasa.
1. Matinya Etika dalam Berkuasa
Fernando menegaskan bahwa penggantian nama gedung tersebut bukan sekadar urusan administrasi atau pergantian papan nama, melainkan bentuk pengabaian terhadap legitimasi moral.
“Ketika nama Balai Bolon Djabanten Damanik dihapus tanpa dialog publik yang layak, yang dikorbankan bukan sekadar papan nama. Yang dipertaruhkan adalah legitimasi moral kekuasaan itu sendiri. Ini bukan cerminan kepemimpinan yang kuat, melainkan pertunjukan arogansi, seolah otoritas tak perlu lagi mendengar suara warga,” tegas pria yang akrab dengan ciri khas Topi Pasir ini.
2. Penguasa Bukan Pemilik Sejarah
Dalam pernyataannya, Ketum AGENSI ini mengingatkan para pemangku kebijakan di Pemkab Simalungun bahwa jabatan bersifat sementara, namun dampak dari sebuah kebijakan akan dicatat selamanya oleh sejarah.
“Kekuasaan itu perlu diingat: ia tidak absolut, tidak abadi, dan sangat terbatas. Ketika penguasa lupa pada batas itu, sejarah akan mencatat mereka bukan sebagai pemimpin yang membangun, melainkan sebagai penghapus ingatan kolektif,” tambahnya dengan nada getir.
3. Peringatan Moral: Hukum Tabur Tuai
Lebih jauh, Fernando memberikan peringatan spiritual dan moral terkait kebijakan yang dinilai menyakiti perasaan keluarga besar Damanik dan masyarakat luas. Ia menekankan bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi.
“Hati-hati, Ingat Karma! Apa yang ditanam dengan cara yang tidak beradab, akan menuai hasil yang serupa. Jangan mentang-mentang berkuasa hari ini, lantas bisa menghapus jasa orang tua kita terdahulu seenaknya. Kami tidak akan diam melihat marwah tokoh kami direndahkan demi ambisi pencitraan semu,” ungkapnya.
Sikap Tegas DPP AGENSI:
Fernando Albert Damanik melalui DPP AGENSI menyatakan akan terus mengawal persoalan ini hingga ada itikad baik dari pemerintah untuk duduk bersama.
Menuntut Transparansi: Meminta dasar kajian akademis dan historis di balik penghapusan nama tersebut.
Seruan Menjaga Marwah: Mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak membiarkan kebijakan sepihak ini menjadi preseden buruk bagi masa depan Simalungun.
“Kita selesaikan ini dengan beretika, sesuai falsafah Habonaran Do Bona. Tapi jangan uji kesabaran kami dengan pengabaian,” tutup Fernando.
(Redaksi Nusantaranews-Today)


















Komentar