Toba, 7 Agustus 2025 — Ketegangan kembali pecah antara masyarakat adat dan perusahaan kehutanan raksasa PT Toba Pulp Lestari (TPL) di wilayah Kabupaten Toba. Sekitar pukul 08.00 WIB pagi tadi, ratusan karyawan dan petugas keamanan TPL dilaporkan melakukan aksi kekerasan dan penggusuran terhadap Masyarakat Adat Natinggir di Desa Simare, Kecamatan Borbor.
Kejadian ini bermula ketika pihak TPL memaksakan penanaman pohon eukaliptus di atas lahan pertanian yang selama ini dikelola oleh warga adat. Masyarakat Natinggir yang berusaha menghentikan aktivitas tersebut malah mendapat tindakan represif dari petugas perusahaan.
Satu Warga Luka, Rumah Dilempari Saat Anak-anak Berada di Dalam
Dalam bentrokan tersebut, satu orang warga dilaporkan mengalami luka di bagian leher, akibat tindakan kekerasan yang dilakukan oleh pihak keamanan perusahaan. Tidak hanya itu, rumah-rumah warga yang dihuni anak-anak juga menjadi sasaran pelemparan batu, menciptakan suasana kepanikan dan trauma di kalangan warga, khususnya anak-anak.
Pengrusakan ini menandai eskalasi konflik antara masyarakat adat dengan perusahaan yang sejak lama dituding merampas tanah ulayat demi kepentingan industri.
Aktivis KSPPM Terancam, Situasi Mencekam
Tidak hanya warga adat, empat orang aktivis dari Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM) yang tengah mendampingi masyarakat di lapangan juga menjadi sasaran intimidasi oleh pihak perusahaan.
Menurut informasi dari KSPPM, keempat aktivis saat ini terpaksa menyelamatkan diri dan bersembunyi karena menjadi target utama akibat aktivitas pendampingan yang mereka lakukan.
Penanaman Eukaliptus Masih Berlangsung
Meski warga mengalami luka dan rumah mereka dirusak, aktivitas penanaman pohon eukaliptus oleh pihak TPL dilaporkan masih terus berlangsung hingga siang hari ini. Sementara itu, pihak perusahaan belum memberikan pernyataan resmi atas insiden ini.
Kondisi di lapangan dilaporkan semakin mencekam, dan warga dalam ketakutan menunggu kehadiran aparat penegak hukum atau pihak berwenang untuk menghentikan kekerasan.
️ Tuntutan Keadilan
Insiden ini menambah panjang daftar konflik agraria antara masyarakat adat dan perusahaan TPL di wilayah Tapanuli. Masyarakat Adat Natinggir bersama organisasi pendamping menyerukan penghentian kekerasan, pengusutan pelaku, dan pengakuan hak atas tanah adat mereka yang selama ini diabaikan.
Redaksi Nusantaranews-Today.com akan terus memantau perkembangan situasi di lapangan dan menghadirkan informasi terbaru untuk publik.
Jika Anda memiliki dokumentasi, video, atau kesaksian langsung dari lokasi, kirimkan kepada redaksi kami untuk bersama mengawal kebenaran.
Sumber: KSPPM










Komentar