[OPINI] Balei Harungguan:

Antara Logika Administrasi dan Nalar Kemanusiaan

opini, OPINI DESA4600 Dilihat

Oleh: Fernando Albert Damanik

Gejolak atas penghapusan nama Drs. Djabanten Damanik di Balei Harungguan Simalungun bukan sekadar debat soal “papan nama”. Ini adalah manifestasi dari kegagalan sinkronisasi antara logika birokrasi yang dingin dengan alam nalar manusia Simalungun yang penuh dengan nilai penghormatan (marhormat).

Logika Kekuasaan: Dingin dan Tak Berjiwa

Secara logika pemerintahan, penguasa mungkin menganggap aset daerah adalah kanvas kosong yang bisa diubah kapan saja atas nama “penghormatan pahlawan nasional”. Namun, logika ini sering kali terjebak dalam ruang hampa. Di atas kertas, mengganti nama tokoh lokal dengan pahlawan nasional mungkin terlihat sebagai pencapaian administratif yang progresif.

Ikuti Kami

Dapatkan Update Berita Tercepat

YouTube
45.2K Subs
Subscribe
WhatsApp
18.5K Followers
Gabung
Telegram
12.3K Members
Join
Facebook
125.4K Fans
Ikuti
Google News
5.4K Readers
Ikuti

Namun, logika yang tidak berakar pada “Tanah” (akar budaya) akan selalu kehilangan jiwanya. Ketika pemerintah menghapus jejak Drs. Djabanten Damanik secara sepihak, mereka sedang menggunakan logika Substitusi (mengganti), bukan logika Akumulasi (menambah). Inilah kesalahan fatalnya: menganggap bahwa untuk menghormati satu matahari, mereka harus memadamkan cahaya bintang yang lain.

Alam Nalar Manusia: Ingatan dan Harga Diri

Alam nalar manusia—khususnya masyarakat Simalungun—bekerja melalui mekanisme Memori Kolektif. Bagi kita, Balei Harungguan bukan sekadar tumpukan semen dan batu; ia adalah simbol pertemuan (Harungguan), tempat di mana martabat marga dan sejarah dipatrikan.

Secara nalar, manusia akan menolak sebuah keadilan yang dipaksakan. Menempatkan nama Tuan Rondahaim Saragih sebagai Pahlawan Nasional adalah sebuah kebanggaan yang tak terbantahkan. Namun, nalar yang sehat akan bertanya: “Mengapa kemuliaan pahlawan kita harus berdiri di atas reruntuhan sejarah tokoh adat kita sendiri?”

Nalar manusia menuntut Keseimbangan. Menghapus nama Djabanten Damanik bukan hanya melukai satu marga, melainkan menciptakan luka pada sistem memori masyarakat Simalungun yang percaya bahwa setiap masa ada tokohnya, dan setiap tokoh ada tempatnya.


“Menghormati masa lalu bukan dengan cara menguburnya, tapi dengan memberinya tempat yang layak berdampingan dengan masa kini.”


Titik Temu: Kebijaksanaan Sang Pengrajin

Jika kita kembali ke metafora Palu Besi dan Landasan Batu, gejolak ini adalah percikan api yang sangat berbahaya. Besi (Logika Kekuasaan) sedang menghantam Batu (Alam Nalar Masyarakat) dengan sangat keras. Jika ini diteruskan, Besinya akan patah karena mosi tidak percaya, dan Batunya akan hancur karena konflik horizontal antar-saudara.

Seorang pemimpin yang bijak seharusnya menggunakan nalar untuk melunakkan logika. Logika mengatakan “Ganti”, tapi nalar membisikkan “Abadikan Keduanya”. Mengapa tidak membangun monumen baru yang megah untuk Sang Pahlawan tanpa harus mencabut prasasti tokoh adat yang sudah ada?

Kesimpulan: Jangan Menjadi Asing di Tanah Sendiri

Gejolak Balei Harungguan adalah alarm bagi pemerintah daerah bahwa rakyat Simalungun tidak bisa dikelola hanya dengan Surat Keputusan (SK) yang dingin. Ada alam nalar yang harus disentuh, ada sejarah yang harus dirawat, dan ada martabat yang tidak bisa ditawar dengan alasan administratif apa pun.

Jangan biarkan ambisi untuk terlihat hormat pada pahlawan nasional justru membuat kita terlihat “tidak tahu adat” di depan leluhur dan tokoh kita sendiri. Kembalikan nama Djabanten Damanik ke tempatnya, dan beri Tuan Rondahaim tempat tertinggi yang tak perlu mengorbankan siapa pun.


Pematang Simalungun, Februari 2026 Penulis adalah Pimpinan Umum Media Nasional NusantaraNews-Today.com

Nusantara News Popup - Boss WA

Komentar