Persembahan atau Panggung Politik

Oleh J.B Damanik

 

OPINI

Ikuti Kami

Dapatkan Update Berita Tercepat

YouTube
45.2K Subs
Subscribe
WhatsApp
18.5K Followers
Gabung
Telegram
12.3K Members
Join
Facebook
125.4K Fans
Ikuti
Google News
5.4K Readers
Ikuti

Perayaan Natal biasanya membawa kedamaian, ketenangan dan kekhusyukan serta penuh makna. Tapi Natal Nasional kali ini tiba-tiba berubah rasa. Persembahan jemaat yang seharusnya murni urusan iman, mendadak ditarik masuk ke panggung negara. Ada panggung megah, ada juga agenda diplomasi, lebih menarik lagi Ketua pelaksananya seorang menteri yang hampir tidak pernah terdengar terlibat dalam penyelesaian masalah-masalah intoleransi di negeri ini. Aneh? Tentu saja.

Dalihnya: kemanusiaan untuk Palestina. Mulia? Ya. Tapi kemasan yang terlalu rapi sering kali menyembunyikan kepentingan. Ketika negara mengatur arah persembahan gereja, itu bukan lagi solidaritas. Itu sinyal bahwa kekuasaan sedang menempatkan dirinya di altar.

Ibadah berubah seperti konferensi pers. Persembahan jadi alat diplomasi. Natal yang seharusnya terkait dengan palungan malah berkelana ke halaman politik. Gereja bukanlah instrumen negara. Persembahan bukan juga medium pencitraan. Dan umat tidak wajib mengamini agenda kekuasaan yang menempel di balik narasi kemanusiaan.

Konstitusi jelas: negara menjamin kebebasan beribadat, bukan mengendalikan. Begitu negara mulai menentukan isi persembahan, itu namanya intervensi. Hari ini persembahan. Besok apa lagi, tema khotbah, isi liturgi dst ?

Perlu ditegaskan bahwa bantuan untuk Palestina bisa dilakukan tanpa menyentuh altar. Jangan jadikan kesucian sebagai panggung. Jangan jadikan persembahan sebagai strategi dan juga jangan jadikan ibadah sebagai kendaraan politik.

Persembahan adalah milik umat. Titik.

Nusantara News Popup - Boss WA