💔 HANYA DEMI CINTA!

Pria Berastagi Nekat JALAN KAKI 117 KM TANPA ALAS KAKI, Terobos Longsor Cari Orang Tua di Sibolga yang Hilang Kontak

SIBOLGA – Di tengah lumpuhnya akses dan kepastian informasi pasca banjir bandang serta longsor dahsyat melanda Sumatra Utara, sebuah kisah heroik sekaligus mengharukan muncul dari seorang anak yang menolak menyerah pada takdir.

Rusman Pardamean Pandiangan, pria asal Berastagi, Sumatera Utara, nekat memulai perjalanan yang nyaris mustahil: berjalan kaki sejauh lebih dari 117 kilometer dari KM 32 Tapanuli Utara menuju Sibolga. Misinya tunggal dan menghunjam: mencari kedua orang tuanya yang hilang kontak sejak bencana menerjang.

Ikuti Kami

Dapatkan Update Berita Tercepat

YouTube
45.2K Subs
Subscribe
WhatsApp
18.5K Followers
Gabung
Telegram
12.3K Members
Join
Facebook
125.4K Fans
Ikuti
Google News
5.4K Readers
Ikuti

Medan Neraka, Kaki Telanjang

Perjalanan Rusman bukanlah perjalanan biasa. Ia harus menyusuri jalanan yang kini menjelma menjadi medan neraka, dipenuhi lumpur tebal, tumpukan batu, dan material longsor yang belum tersentuh alat berat. Lebih mencengangkan, Rusman melakukannya dengan kaki telanjang.

Di pundaknya, tersemat karung-karung berisi bahan makanan, yang ia sebut bukan sekadar logistik, melainkan manifestasi konkret dari cinta seorang anak.

“Belum ada kabar. Tapi saya tetap jalan. Ini mengirim untuk keluarga,” katanya lirih saat ditemui awak media Nusantaranews_Today.Com di tengah perjalanannya yang melelahkan.

Sendirian Melawan Ketakutan dan Ketidakpastian

Awalnya, Rusman sempat ditemani beberapa kerabat, namun kerasnya medan dan jarak yang mematikan membuat mereka menyerah. Rusman memilih melanjutkan perjuangannya sendirian.

Sejak jaringan komunikasi terputus, Rusman mengaku tidak pernah lagi mendengar suara orang tuanya. Kegagalan demi kegagalan saat mencoba menghubungi mereka menuntunnya pada satu keputusan ekstrem: menjangkau langsung titik pusat bencana di Sibolga.

“Di sana, orang tua, keluarga, keponakan, semua di Sibolga. Sampai kini tidak ada kabar sama sekali,” ujarnya sambil berjalan sedikit terpincang.

Bagi Rusman, kesulitan berjalan di jalur yang hancur dan berlumpur tidak sebanding dengan kecemasan yang merobek hati. Kisah Rusman ini menjadi testimoni nyata tentang kekuatan cinta yang mampu menaklukkan bencana dan ketidakpastian.


By Redaksi | 6 Desember 2025

Komentar