Kesaktian Pancasila, Realita atau Nostalgia?

oleh : Joan Berlin Damanik,SSi,MM

Setiap 1 Oktober bangsa ini memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Upacara digelar, pidato disampaikan, dan jargon persatuan kembali digaungkan. Namun pertanyaan tetap menggantung: apakah Pancasila masih “sakti” di tengah kehidupan bangsa, ataukah ia hanya tinggal nostalgia yang terus diulang tanpa makna?

Pancasila yang Tetap Kokoh
Sejak awal dirumuskan, Pancasila hadir untuk mempersatukan bangsa yang beragam. Kesaktiannya bukan perkara mistis, melainkan daya tahan nilai yang selalu relevan. Keadilan sosial, persatuan, dan kemanusiaan adalah prinsip universal yang tidak lekang waktu.
Buktinya, ketika bangsa menghadapi bencana atau krisis, solidaritas warga muncul dalam semangat gotong-royong. Negara pun membentuk BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) sebagai upaya menjaga agar nilai Pancasila tidak sekadar slogan, melainkan tetap menjadi pedoman.

Ikuti Kami

Dapatkan Update Berita Tercepat

YouTube
45.2K Subs
Subscribe
WhatsApp
18.5K Followers
Gabung
Telegram
12.3K Members
Join
Facebook
125.4K Fans
Ikuti
Google News
5.4K Readers
Ikuti

Tantangan Nyata di Lapangan
Meski begitu, fakta di lapangan berbicara lain. Survei Kementerian Koordinator PMK 2023 mencatat hanya 28,6 persen siswa benar-benar memahami Pancasila di kelas. Mayoritas justru lebih mengenalnya dari media sosial, yang penuh hoaks dan ujaran kebencian.
Litbang Kompas juga menemukan 34,5 persen responden menilai teknologi dan media sosial menjadi tantangan utama dalam penerapan nilai Pancasila. Polarisasi politik, fanatisme sempit, hingga konten provokatif kian menggerus persatuan.
Belum berhenti di situ, 34,3 persen responden menyebut korupsi dan nepotisme sebagai pengkhianatan paling nyata terhadap Pancasila. Sulit bicara keadilan sosial bila elit politik justru mempertontonkan penyalahgunaan kekuasaan.

Realita atau Nostalgia?
Dalam kenyataan sehari-hari, Pancasila memang masih dirujuk sebagai simbol moral dan identitas bersama. Namun, dalam praktik politik dan ekonomi, nilai-nilainya sering tersisih.
Bagi sebagian orang, kesaktian Pancasila hanya terasa sebagai romantisme masa lalu. Ada jarak yang lebar antara cita-cita luhur Pancasila dengan praktik sehari-hari bangsa ini: intoleransi masih marak, kesenjangan sosial makin tajam, dan korupsi seakan tak pernah putus.

Jalan Menjaga Kesaktian
Jika Pancasila tak ingin sekadar jadi nostalgia, ada langkah yang perlu ditempuh:
1. Pendidikan Kontekstual
Mengajarkan Pancasila tidak cukup dengan hafalan. Nilai itu harus dibumikan lewat kasus nyata: intoleransi, lingkungan, hingga keadilan sosial.
2. Teladan Pemimpin
Kesaktian Pancasila akan hidup bila pejabat publik memberi contoh lewat kejujuran, transparansi, dan keberanian melawan korupsi.
3. Gerakan Masyarakat
Pancasila harus hidup dalam ruang sosial: gotong-royong, solidaritas lintas agama, hingga aksi kemanusiaan.
4. Literasi Digital
Masyarakat perlu dibekali kemampuan menyaring informasi agar ruang digital tidak dikuasai ujaran kebencian dan polarisasi.

Penutup
Kesaktian Pancasila bukan soal mistis atau ritual tahunan, melainkan bagaimana nilai itu benar-benar hidup dalam kehidupan bangsa. Jika hanya berhenti pada seremoni 1 Oktober, Pancasila akan jadi nostalgia belaka.
Namun bila pendidikan, teladan, dan gerakan sosial mampu menghidupkan kembali roh Pancasila, maka “kesaktiannya” akan nyata, bukan karena diwarisi, melainkan karena terus diperjuangkan. (Penulis adalah Akademisi, Pemerhati lingkungan-sosial, Mentor Kepemudaan dan Kebangsaan)

👁️ Dilihat: 0 kali
Nusantara News Popup - Boss WA

Komentar