Tempat Lahir Bung Karno Kembali Diperdebatkan: Ploso Ajukan Arsip, Surabaya Pegang Catatan Historis

Bagikan:➤☎
Waktu baca 5 menitDiperbarui 29 September 2026, 12:31 WIB

JOMBANG — Perdebatan mengenai tempat kelahiran Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, kembali mencuat. Selama ini Surabaya dikenal luas sebagai tempat kelahiran Bung Karno pada 6 Juni 1902. Namun, penelusuran sejumlah pemerhati sejarah di Jombang menghadirkan versi lain yang menyebut Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso, sebagai lokasi kelahiran Sang Proklamator.

Persoalannya kini bukan sekadar soal klaim antardaerah. Perbedaan tersebut menyentuh persoalan sumber sejarah: arsip mana yang paling awal, bagaimana dokumen tersebut dibuat, siapa yang mencatatnya, serta apakah seluruh bukti dapat disusun dalam satu rangkaian kronologi yang konsisten.

Ikuti Kami

Dapatkan Update Berita Tercepat

YouTube
45.2K Subs
Subscribe
WhatsApp
18.5K Followers
Gabung
Telegram
12.3K Members
Join
Facebook
125.4K Fans
Ikuti
Google News
5.4K Readers
Ikuti

Karena itu, klaim Ploso maupun versi Surabaya sama-sama perlu ditempatkan sebagai bagian dari penelitian yang terbuka terhadap pengujian.

Salah satu dokumen yang menjadi dasar penelusuran versi Ploso adalah arsip mengenai Raden Soekeni Sosrodihardjo, ayah Soekarno. Pusat Studi Arsip Statis Kepresidenan ANRI mencatat bahwa Soekeni menerima besluit pemindahan tugas pada 28 Desember 1901 untuk menjadi Mantri Guru di Ploso, Jombang. Catatan ANRI juga menyebut Soekeni kemudian dipindahkan dari Ploso pada 1907.

Rentang waktu tersebut menjadi salah satu pijakan bagi pihak yang meyakini Soekarno lahir di Ploso pada 6 Juni 1902.

Namun, keberadaan ayah Soekarno di Ploso belum dengan sendirinya membuktikan bahwa proses kelahiran Soekarno berlangsung di wilayah tersebut. Dalam penelitian sejarah, bukti lokasi kelahiran harus dikaitkan dengan sumber lain yang lebih langsung, termasuk catatan keluarga, administrasi kependudukan, dokumen pendidikan, kesaksian sezaman, serta bukti material yang dapat diverifikasi.

Surabaya atau Ploso? Bukti Belum Boleh Dipilih Sepihak

Versi Surabaya memiliki dasar dokumenter yang juga perlu diperhitungkan.

ANTARA sebelumnya melaporkan bahwa buku induk mahasiswa Technische Hoogeschool te Bandoeng—institusi yang kemudian menjadi Institut Teknologi Bandung—mencatat Soekarno lahir pada 6 Juni 1902 di Surabaya. Dokumen tersebut menjadi salah satu sumber yang digunakan untuk mendukung versi Surabaya.

Di sisi lain, sejumlah pemerhati sejarah Jombang menyodorkan dokumen dan kesaksian yang mereka nilai mendukung versi Ploso. Salah satu sumber yang mereka gunakan adalah catatan keluarga Raden Soekeni serta arsip mengenai penugasannya di Ploso. Ada pula klaim mengenai keberadaan lebih dari 10 dokumen pendukung yang sedang dikaji oleh para penelusur sejarah setempat. Klaim tersebut masih perlu diuji secara independen dan dibandingkan dengan keseluruhan arsip yang tersedia.

Di sinilah kritik sumber menjadi penting.

Dokumen tidak cukup hanya ditampilkan sebagai “bukti”. Peneliti perlu memastikan usia dokumen, asal-usulnya, keaslian, konteks pembuatannya, serta hubungan dokumen tersebut dengan peristiwa yang hendak dibuktikan.

Dengan pendekatan itu, sebuah arsip yang menunjukkan keberadaan Raden Soekeni di Ploso pada 1901–1907 dapat menjadi bukti penting mengenai domisili dan perjalanan keluarga. Namun, untuk menjadikannya bukti langsung mengenai lokasi kelahiran Soekarno, masih diperlukan mata rantai pembuktian tambahan.

Jejak Cindy Adams dan Memori Lokal

Persoalan lain yang ikut diperiksa adalah perjalanan penulis Amerika Serikat, Cindy Adams, ke Ploso pada 16 Januari 1964 dalam rangka pengumpulan bahan untuk biografi Soekarno.

Sejumlah sumber lokal dan institusi pendidikan mencatat bahwa Cindy Adams ketika itu melakukan penelusuran dan wawancara dengan sejumlah orang yang disebut memiliki hubungan dengan masa kecil Soekarno, termasuk Mbok Suwi, Mbok Mirah, dan Mbah Joyo Dipo. Pada Januari 2026, masyarakat dan pegiat sejarah di Rejoagung bahkan menggelar rekonstruksi untuk memperingati kunjungan tersebut.

Namun, tradisi lisan tetap membutuhkan kehati-hatian.

Kesaksian yang diwariskan antargenerasi memiliki nilai sebagai petunjuk sejarah, tetapi kekuatannya harus diuji dengan sumber sezaman. Karena itu, apabila terdapat catatan asli wawancara Cindy Adams, foto, manuskrip, surat, atau dokumen lapangan dari perjalanan 1964, material tersebut menjadi penting untuk diperiksa secara akademis.

Pertanyaan kuncinya bukan semata-mata apakah masyarakat Ploso meyakini Bung Karno lahir di sana, melainkan sejak kapan keyakinan itu muncul, siapa sumber pertamanya, dan apakah terdapat dokumen sezaman yang mendukungnya.

TACBN Turun ke Ploso

Perdebatan tersebut mendapat perkembangan baru pada 9 September 2026 ketika Tim Ahli Cagar Budaya Nasional (TACBN) mengunjungi Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso.

Kunjungan tersebut melibatkan TACB Jawa Timur, TACB Jombang, Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur, penelusur sejarah, budayawan, serta sejumlah tokoh masyarakat. Rombongan mendapatkan pemaparan mengenai lokasi yang oleh masyarakat setempat diyakini sebagai rumah kelahiran Bung Karno.

Kehadiran TACBN merupakan perkembangan penting dalam konteks penelitian dan pelestarian situs. Namun, kunjungan tersebut tidak otomatis berarti pemerintah telah menetapkan Ploso sebagai tempat kelahiran Bung Karno.

Justru tahap tersebut perlu dibaca sebagai bagian dari proses penelusuran dan pengkajian.

Artinya, status sejarah lokasi tersebut masih harus dibedakan dari status fisik bangunannya sebagai objek yang berpotensi memiliki nilai cagar budaya.

Jangan Campurkan Kebesaran Sejarah dengan Bukti Kelahiran

Jombang memang memiliki posisi penting dalam sejarah Jawa Timur. Kawasan sekitar aliran Sungai Brantas merupakan bagian dari lanskap sejarah yang berkaitan dengan perkembangan pusat-pusat kekuasaan Jawa Timur pada masa lampau.

Namun, menghubungkan kelahiran Bung Karno dengan kejayaan Medang atau Kahuripan tidak dapat dijadikan bukti mengenai lokasi kelahirannya.

Konteks peradaban dapat memperkaya pemahaman geografis dan budaya suatu daerah, tetapi tidak dapat menggantikan bukti primer mengenai sebuah peristiwa pada 6 Juni 1902.

Karena itu, narasi romantik bahwa seorang tokoh besar lahir di tanah bekas pusat peradaban besar harus tetap dipisahkan dari pembuktian historiografis.

Sejarah membutuhkan bukti, bukan sekadar cerita yang terdengar meyakinkan.

Situs Perlu Dijaga, Penelitian Tetap Berjalan

Di tengah perdebatan tersebut, pelestarian lokasi yang diyakini masyarakat sebagai rumah kelahiran Bung Karno tetap memiliki alasan untuk dilakukan, terutama jika bangunan dan lingkungan sekitarnya memiliki nilai sejarah atau budaya yang dapat dibuktikan.

Perlindungan fisik situs tidak harus menunggu seluruh perdebatan historiografi selesai. Sebaliknya, dokumentasi bangunan, penelitian struktur, inventarisasi artefak, pencatatan sejarah lisan, serta penyelamatan dokumen justru dapat membantu penelitian berikutnya.

Tetapi pelestarian juga harus disertai transparansi mengenai statusnya: apakah sebuah lokasi sudah ditetapkan sebagai situs cagar budaya, sedang dikaji, atau baru sebatas lokasi yang diyakini masyarakat sebagai tempat bersejarah.

Pembedaan tersebut penting agar penghormatan terhadap sejarah tidak berubah menjadi pembentukan kesimpulan sebelum penelitian selesai.

Ketika Saksi Sejarah Semakin Sedikit

Wafatnya Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra pada 26 September 2026 dalam usia 73 tahun kembali mengingatkan pentingnya dokumentasi sejarah keluarga Soekarno. Guruh, putra bungsu Soekarno, meninggal dunia pada pukul 04.16 WIB di MRCCC Siloam Hospital Semanggi, Jakarta.

Kepergian generasi yang memiliki hubungan langsung dengan keluarga Soekarno membuat pekerjaan dokumentasi semakin mendesak.

Namun, ketika saksi hidup semakin berkurang, sejarah tidak boleh dibangun hanya berdasarkan siapa yang paling keras menyampaikan klaim. Fondasi utamanya tetap dokumen, arsip, benda, kesaksian yang dapat diverifikasi, serta metode penelitian yang terbuka terhadap koreksi.

Pada akhirnya, persoalan tempat kelahiran Bung Karno bukan kompetisi antara Surabaya dan Ploso.

Jika Ploso memiliki bukti yang kuat, bukti itu harus dibuka dan diuji. Jika terdapat bukti yang menunjukkan Surabaya, bukti tersebut juga harus dipertahankan melalui pemeriksaan yang sama ketatnya.

Kebenaran sejarah tidak ditentukan oleh banyaknya orang yang mengulang sebuah cerita, tetapi oleh kekuatan bukti yang mampu bertahan ketika diuji.

Karena itu, penelitian mengenai tempat kelahiran Bung Karno seharusnya tidak ditutup dengan keyakinan, melainkan dilanjutkan dengan kerja akademis: membuka arsip, memeriksa dokumen asli, menguji kesaksian, menelusuri konteks administratif 1902, dan membandingkan seluruh sumber yang tersedia.

Jasmerah—jangan sekali-kali melupakan sejarah—bukan berarti mempertahankan setiap narasi lama tanpa pemeriksaan. Menghormati sejarah juga berarti berani menguji kembali setiap klaim ketika ditemukan bukti baru.

(Red)

👁️ Dilihat: 1 kali
Gambar Gravatar
Penulis

Suleman Sinulingga

Tim redaksi Nusantara News Today.

Lihat artikel lainnya
Nusantara News Popup - Boss WA

Komentar