KETUM AGENSI ANGKAT BICARA: KJA BARU DIDUGA MASUK HARANGGAOL, “JANGAN BIARKAN AUDIENSI JADI SEREMONIAL!”

Bagikan:➤☎
Waktu baca 4 menitDiperbarui 5 September 2026, 05:41 WIB

Dugaan Masuknya KJA Baru di Haranggaol Picu Reaksi Keras

SIMALUNGUN — Munculnya dugaan keberadaan keramba jaring apung (KJA) baru di kawasan Haranggaol, Danau Toba, memantik reaksi keras dari Ketua Umum Anak Generasi Indonesia (AGENSI), Fernando Albert Damanik. Ia menilai kondisi tersebut merupakan persoalan serius yang tidak boleh dipandang sebelah mata, terlebih di tengah berbagai proses audiensi dan pembahasan mengenai penataan kawasan Danau Toba yang masih berlangsung.

Ikuti Kami

Dapatkan Update Berita Tercepat

YouTube
45.2K Subs
Subscribe
WhatsApp
18.5K Followers
Gabung
Telegram
12.3K Members
Join
Facebook
125.4K Fans
Ikuti
Google News
5.4K Readers
Ikuti

Menurut Fernando, masyarakat di sekitar Danau Toba sudah terlalu lama mendengar berbagai janji dan rencana penataan. Karena itu, pemerintah tidak cukup hanya menggelar pertemuan dan menyampaikan komitmen di atas podium. Kebijakan yang dirumuskan harus benar-benar dirasakan dampaknya di lapangan.

“Kalau hari ini kita masih melihat adanya KJA baru masuk ke kawasan Haranggaol, lalu sebenarnya untuk apa berbagai audiensi dan pembahasan yang selama ini dilakukan? Jangan sampai masyarakat hanya diberikan ruang untuk berbicara, tetapi setelah itu tidak ada tindakan nyata,” tegas Fernando Albert Damanik.

Konsistensi Kebijakan Dipertanyakan

Fernando secara khusus mempertanyakan konsistensi pemerintah dalam menjalankan kebijakan pengelolaan Danau Toba. Ia menegaskan bahwa persoalan KJA tidak semata-mata menyangkut aktivitas ekonomi. Ada dimensi lingkungan, tata kelola kawasan, kepentingan masyarakat luas, serta keberlanjutan ekosistem Danau Toba yang harus menjadi pertimbangan utama dalam setiap pengambilan keputusan.

“Danau Toba ini bukan milik segelintir orang. Ini kawasan strategis yang menyangkut kehidupan masyarakat dan masa depan generasi. Kalau pemerintah bicara penyelamatan Danau Toba, maka kebijakan itu harus terlihat nyata, bukan hanya bagus di atas kertas,” ujar Fernando.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi kritik atas kondisi yang dinilainya kontradiktif: di satu sisi pemerintah menyatakan tengah melakukan penataan, sementara di sisi lain diduga masih ada aktivitas baru yang justru menambah beban kawasan perairan Danau Toba.

Jangan Ada Standar Ganda dalam Penataan KJA

Hal lain yang disoroti Fernando adalah potensi standar ganda dalam penerapan aturan. Ia meminta agar seluruh pihak diperlakukan berdasarkan ketentuan yang sama, tanpa pengecualian yang menimbulkan kecurigaan di tengah masyarakat.

“Jangan sampai masyarakat kecil diminta taat aturan, sementara di sisi lain muncul aktivitas baru yang justru menimbulkan tanda tanya di tengah masyarakat. Pemerintah harus transparan,” katanya.

Pernyataan ini mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas soal keadilan penerapan regulasi. Jika penataan KJA hanya berlaku selektif, maka kepercayaan masyarakat terhadap niat baik pemerintah akan semakin terkikis.

Masyarakat Berhak Tahu: Siapa yang Bertanggung Jawab?

Fernando juga menekankan pentingnya kejelasan mengenai status, legalitas, dan proses yang memungkinkan masuknya KJA baru tersebut ke kawasan Haranggaol. Ia meminta instansi terkait tidak saling melempar tanggung jawab hanya karena persoalan ini telah menjadi perhatian publik.

“Kalau memang ada KJA baru, masyarakat berhak tahu dasar dan prosesnya. Siapa yang mengawasi? Bagaimana ketentuannya? Apakah sesuai dengan kebijakan penataan Danau Toba? Jangan masyarakat terus yang disuruh bertanya, sementara pemerintah diam,” tegasnya.

Tuntutan transparansi ini dinilai AGENSI sebagai hal mendasar. Bagi organisasi tersebut, pertanyaan soal KJA bukan semata-mata persoalan teknis perizinan, melainkan menyangkut kredibilitas pemerintah dalam menjalankan komitmennya terhadap perlindungan Danau Toba sebagai aset lingkungan dan kawasan strategis nasional.

AGENSI: Audiensi Harus Berbuah Tindakan Nyata

Fernando mengingatkan bahwa masyarakat Haranggaol telah menyampaikan keresahan dan aspirasi mereka melalui berbagai forum. Karena itu, hasil audiensi harus memiliki tindak lanjut yang konkret dan dapat dipantau secara terbuka oleh publik.

“Kami tidak ingin audiensi hanya menjadi dokumentasi, foto bersama, kemudian selesai. Masyarakat membutuhkan tindakan. Kalau memang ada kebijakan untuk menata Danau Toba, jalankan secara konsisten,” katanya.

Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa forum audiensi seharusnya bukan sekadar rutinitas prosedural yang berhenti pada berita acara. Kepercayaan masyarakat terhadap proses demokrasi dan tata kelola pemerintahan sangat bergantung pada bagaimana komitmen yang disampaikan dalam ruangan tertutup kemudian diwujudkan secara nyata di ruang publik.

AGENSI Tegaskan Sikap: Kritik sebagai Kontrol Sosial

Menutup pernyataannya, Fernando menegaskan bahwa langkah AGENSI dalam menyuarakan persoalan ini bukan dilandasi tendensi mencari konfrontasi. Sebaliknya, kritik yang disampaikan merupakan bagian dari fungsi kontrol masyarakat sipil terhadap jalannya pemerintahan.

“Kami tidak sedang mencari musuh. Kami sedang mengingatkan pemerintah bahwa Danau Toba adalah aset lingkungan yang harus dijaga. Kritik kami adalah bagian dari kontrol masyarakat. Kalau ada kebijakan yang baik, kami dukung. Tetapi kalau ada persoalan yang merugikan kepentingan publik, kami akan bersuara,” pungkas Fernando Albert Damanik.

AGENSI menegaskan bahwa perlindungan Danau Toba harus menjadi tanggung jawab bersama, dengan pemerintah sebagai pihak yang memiliki kewenangan untuk memastikan regulasi berjalan secara konsisten dan transparan. Organisasi ini menyerukan agar semua pemangku kepentingan menyadari bahwa Danau Toba bukan sekadar objek wisata atau sumber daya ekonomi, melainkan amanah lingkungan yang harus diwariskan dalam kondisi terjaga kepada generasi mendatang.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari instansi pemerintah terkait mengenai status dan legalitas KJA yang diduga masuk ke kawasan Haranggaol tersebut. Redaksi akan terus memantau perkembangan persoalan ini dan memberikan ruang bagi seluruh pihak untuk menyampaikan klarifikasi.

Penulis / Pimred: Suleman Sinulingga
Pimpinan Umum: Fernando Albert Damanik

👁️ Dilihat: 52 kali
Gambar Gravatar
Penulis

Suleman Sinulingga

Tim redaksi Nusantara News Today.

Lihat artikel lainnya
Nusantara News Popup - Boss WA

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Komentar