Hotmix Tanah Jawa–Bah Jambi Mulai Berjalan, Disambut Positif Warga
SIMALUNGUN — Pengerjaan peningkatan jalan dengan konstruksi hotmix pada ruas Tanah Jawa–Bah Jambi resmi dimulai. Langkah ini disambut positif oleh masyarakat setempat, mengingat kondisi jalan yang layak merupakan kebutuhan mendasar dalam menunjang mobilitas warga sekaligus memperlancar roda perekonomian di kawasan tersebut.
Kehadiran alat berat dan material hotmix di ruas tersebut menjadi pemandangan yang ditunggu-tunggu, dan bagi warga yang selama ini merasakan kendala akibat kondisi jalan, dimulainya pekerjaan fisik tentu membawa harapan nyata. Infrastruktur jalan yang baik bukan sekadar urusan kenyamanan berkendara — ia menyangkut akses masyarakat terhadap pusat ekonomi, layanan pendidikan, fasilitas kesehatan, serta kegiatan pertanian dan perkebunan yang menjadi penopang kehidupan banyak keluarga.
Apresiasi Sekaligus Pertanyaan dari Ruas Lain
Namun, dimulainya pekerjaan di ruas Tanah Jawa–Bah Jambi sekaligus membuka pertanyaan baru dari kalangan masyarakat di wilayah yang berbeda. Warga yang sehari-hari melintas di ruas Saribuasih–Tangga Batu hingga menuju Kecamatan Dolok Panribuan ikut menyuarakan harapan serupa: kapan ruas yang mereka lalui mendapat penanganan yang sama?
Penting untuk dicatat bahwa pertanyaan ini bukan bentuk penolakan atau penentangan terhadap pembangunan yang sedang berjalan. Masyarakat justru mengapresiasi setiap langkah pemerintah dalam membangun infrastruktur yang bermanfaat. Yang disuarakan adalah harapan agar pembangunan tersebar merata dan tidak hanya terpusat pada satu ruas saja, sementara ruas penghubung penting di wilayah lain masih dibiarkan menunggu tanpa kejelasan waktu.
Bukan Membandingkan, Warga Meminta Kepastian
Aspirasi yang berkembang di tengah masyarakat sesungguhnya sederhana dan konstruktif: mereka ingin mengetahui secara jelas apakah ruas Saribuasih–Tangga Batu menuju Dolok Panribuan telah masuk dalam program pekerjaan tahun 2026. Jika sudah, kapan pekerjaan dijadwalkan dimulai? Jika belum, apa kendala yang dihadapi dan seperti apa langkah selanjutnya?
Publik juga berhak mengetahui sejauh mana proses perencanaan telah berjalan, mencakup panjang ruas yang akan ditangani, sumber dan besaran anggaran yang dialokasikan, jenis konstruksi yang direncanakan, serta target waktu penyelesaian. Kejelasan informasi ini menjadi penting agar masyarakat tidak hanya mendengar wacana pembangunan dari jauh, tetapi benar-benar memiliki gambaran pasti tentang kapan dan bagaimana realisasinya di lapangan.
Pernah Disebut Masuk Program Pembangunan
Pertanyaan masyarakat semakin relevan mengingat sebelumnya Bupati Simalungun pernah menyampaikan perhatian terhadap sejumlah kerusakan jalan di wilayah Hatonduhan. Salah satu ruas yang disebut secara spesifik adalah Jalan Simpang Hatonduhan–Tangga Batu sepanjang 1.720 meter dengan alokasi anggaran sekitar Rp7 miliar.
Jika program tersebut memang telah direncanakan dan dianggarkan, masyarakat tentu berharap pemerintah dapat memberikan penjelasan terbuka mengenai perkembangan pelaksanaannya. Sebab bagi warga yang setiap hari melewati ruas tersebut, kondisi jalan bukan sekadar persoalan angka dalam dokumen perencanaan. Jalan adalah urat nadi aktivitas harian — dan jalan yang baik berarti seluruh aspek kehidupan warga, mulai dari mobilitas ekonomi hingga akses sosial, dapat berjalan lebih lancar.
Hatonduhan–Dolok Panribuan: Jangan Sampai Terlupakan
Pada 2024, Pemerintah Kabupaten Simalungun juga pernah menyinggung adanya upaya perbaikan jalan penghubung Dolok Panribuan–Hatonduhan–Tanah Jawa melalui kegiatan gotong royong masyarakat. Upaya tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan akan perbaikan konektivitas di kawasan ini sudah lama diakui, baik oleh warga maupun oleh pemerintah daerah.
Kini, ketika pembangunan infrastruktur kembali berjalan di sejumlah ruas di Kabupaten Simalungun, harapan masyarakat di kawasan Saribuasih, Tangga Batu, Hatonduhan, dan Dolok Panribuan pun kembali menguat. Mereka berharap konektivitas antarwilayah yang selama ini disuarakan tidak berhenti pada tataran wacana semata, melainkan berlanjut ke tahap realisasi yang nyata dan terukur.
Warga Tidak Meminta Perlakuan Khusus, Hanya Kepastian
Masyarakat di ruas Saribuasih–Tangga Batu hingga Dolok Panribuan pada dasarnya tidak menuntut perlakuan istimewa. Mereka hanya ingin mendapatkan kepastian. Jika ruas tersebut sudah masuk program, mereka ingin tahu kapan pekerjaan dimulai. Jika masih dalam tahap perencanaan, mereka ingin mengetahui tahapan dan estimasi waktunya. Dan apabila terdapat kendala, baik dari sisi anggaran maupun teknis, masyarakat pun berhak mendapatkan penjelasan yang terbuka dan jujur.
Hal ini bukan permintaan yang berlebihan. Pembangunan jalan menggunakan anggaran yang bersumber dari pajak dan dana publik, sehingga transparansi pelaksanaannya merupakan bagian tak terpisahkan dari pertanggungjawaban pemerintah kepada rakyat. Keterbukaan informasi sejak tahap perencanaan hingga realisasi bukan hanya praktik pemerintahan yang baik — ia juga menjadi fondasi kepercayaan masyarakat terhadap institusi publik.
Harapan Agar Pembangunan Merata dan Berkeadilan
Dengan mulai dikerjakannya hotmix di ruas Tanah Jawa–Bah Jambi, semangat dan harapan masyarakat di ruas-ruas lain pun ikut bangkit. Momentum ini seharusnya menjadi pengingat bagi Pemerintah Kabupaten Simalungun, khususnya Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR), bahwa kebutuhan infrastruktur jalan tersebar di berbagai penjuru wilayah — dan setiap ruas memiliki urgensinya masing-masing bagi komunitas yang dilayaninya.
Jangan sampai satu ruas mulai mulus, sementara ruas penghubung lainnya masih terus menunggu tanpa kepastian. Pemerataan pembangunan bukan hanya soal keadilan geografis, tetapi juga soal keadilan sosial — memastikan bahwa setiap warga, di mana pun mereka tinggal, memiliki akses yang setara terhadap infrastruktur dasar yang layak.
Kini pertanyaan dari masyarakat itu menggantung dan menunggu jawaban resmi dari Pemkab Simalungun: ruas Saribuasih–Tangga Batu hingga Dolok Panribuan, kapan dibangun?
Jawaban atas pertanyaan tersebut, seberapa pun adanya, jauh lebih berharga dari keheningan. Karena bagi warga yang setiap hari menempuh jalan itu, kepastian adalah bentuk penghargaan paling nyata dari pemerintah atas kesabaran dan kepercayaan yang selama ini mereka berikan.
Penulis / Pimred: Suleman Sinulingga
Pimpinan Umum: Fernando Albert Damanik

























Komentar