Budaya Simalungun di Tengah Arus Digital: Pegiat Budaya dan AGENSI Ajak Generasi Muda Menjaga Identitas Leluhur

Waktu baca 4 menitDiperbarui 8 Agustus 2026, 08:27 WIB

SIMALUNGUN – Kemajuan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat berkomunikasi, belajar, dan memperoleh informasi. Perubahan tersebut membawa banyak manfaat, namun sekaligus menjadi tantangan bagi keberlangsungan seni dan budaya daerah, termasuk budaya Simalungun.

Hal tersebut menjadi perhatian Johanes Pardamean Girsang, Pegiat Seni Budaya Simalungun dan Guru Dihar Simalungun, bersama Fernando Albert Damanik, Ketua Umum Anak Generasi Indonesia (AGENSI). Keduanya mendorong generasi muda agar kemajuan teknologi tidak membuat mereka semakin jauh dari akar budaya dan identitas daerahnya.

Ikuti Kami

Dapatkan Update Berita Tercepat

YouTube
45.2K Subs
Subscribe
WhatsApp
18.5K Followers
Gabung
Telegram
12.3K Members
Join
Facebook
125.4K Fans
Ikuti
Google News
5.4K Readers
Ikuti

Dalam diskusi mengenai pelestarian budaya Simalungun, Johanes Pardamean Girsang menyampaikan bahwa perkembangan zaman dan derasnya arus informasi digital perlu disikapi secara bijaksana. Menurutnya, budaya Simalungun mulai menghadapi tantangan karena perhatian sebagian masyarakat, terutama generasi muda, semakin terbagi oleh berbagai pengaruh dari luar.

> “Budaya Simalungun sudah mulai terkuras, salah satunya karena pengaruh digital sekarang ini. Namun, kita juga harus memanfaatkan teknologi digital ini untuk mempertahankan seni dan budaya Simalungun khususnya,” ujar Johanes.

 

Menurut Johanes, teknologi tidak seharusnya diposisikan sebagai musuh kebudayaan. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi salah satu sarana paling efektif untuk menjaga, mendokumentasikan dan memperkenalkan kekayaan budaya Simalungun kepada generasi berikutnya.

Digitalisasi Bisa Menjadi Ruang Belajar Budaya

Pelestarian budaya pada era digital dapat dilakukan melalui berbagai langkah sederhana. Pertunjukan seni tradisional dapat direkam dan didokumentasikan, sejarah lokal dapat ditulis dan dipublikasikan, bahasa Simalungun dapat diperkenalkan melalui konten pendidikan, sementara musik, tari, Dihar Simalungun, pakaian adat, cerita rakyat hingga pengetahuan mengenai Rumah Bolon dapat diperkenalkan melalui berbagai platform digital.

Dengan demikian, telepon pintar dan media sosial tidak hanya digunakan sebagai sarana hiburan, tetapi juga dapat menjadi ruang belajar dan arsip kebudayaan.

Dokumentasi kegiatan bersama generasi muda, termasuk kegiatan di lingkungan SMA Negeri 1 Raya, juga menggambarkan pentingnya memperkenalkan nilai budaya melalui pendidikan dan aktivitas generasi penerus.

Sekolah mempunyai posisi strategis dalam upaya tersebut. Pendidikan kebudayaan tidak harus berhenti pada teori di ruang kelas. Generasi muda perlu diberikan kesempatan untuk melihat, mempraktikkan, mendokumentasikan dan memahami makna dari kebudayaan yang mereka warisi.

Dihar Simalungun Bukan Sekadar Gerakan Fisik

Sebagai Guru Dihar Simalungun, Johanes juga menekankan pentingnya mengenalkan seni tradisional kepada generasi muda.

Dihar merupakan salah satu bagian dari kekayaan budaya Simalungun yang perlu dipahami bukan hanya dari sisi gerakan, tetapi juga nilai pendidikan yang terkandung di dalam tradisi tersebut.

Melalui pembelajaran seni budaya, generasi muda dapat diarahkan untuk mengenal nilai kedisiplinan, kebersamaan, penghormatan terhadap sesama serta rasa bangga terhadap identitas daerah.

Karena itu, keberadaan guru, pegiat budaya dan sanggar menjadi penting sebagai penghubung antara pengetahuan para pendahulu dengan generasi yang tumbuh pada zaman digital.

Fernando Albert Damanik: Jadikan Generasi Muda Pelaku Pelestarian

Sementara itu, Ketua Umum AGENSI Fernando Albert Damanik menilai generasi muda tidak cukup hanya diajak mencintai budaya melalui slogan. Mereka perlu dilibatkan secara langsung dalam proses pelestarian.

Menurutnya, kemampuan generasi muda dalam menggunakan teknologi justru merupakan modal besar.

Anak-anak muda dapat membuat video dokumenter, wawancara dengan tokoh adat dan pegiat seni, dokumentasi Rumah Bolon, konten pembelajaran bahasa Simalungun, dokumentasi Dihar dan tari tradisional, hingga membangun arsip digital mengenai sejarah dan kebudayaan daerah.

Dengan pendekatan tersebut, teknologi dan kebudayaan tidak lagi dipandang sebagai dua hal yang saling bertentangan.

Teknologi menjadi alat, sementara budaya tetap menjadi identitas.

Fernando juga mendorong terbangunnya kolaborasi antara pemerintah, sekolah, guru, sanggar budaya, tokoh adat, pegiat seni, organisasi kepemudaan, masyarakat dan media.

Pelestarian budaya, menurutnya, membutuhkan keterlibatan banyak pihak karena warisan budaya bukan hanya milik satu kelompok atau satu generasi.

Dari Rumah Bolon hingga Media Sosial

Rumah Bolon, seni pertunjukan, Dihar, musik tradisional, bahasa, adat istiadat dan berbagai peninggalan budaya Simalungun merupakan sumber pengetahuan yang dapat terus dikembangkan menjadi bahan pendidikan.

Di era digital, proses pewarisan tersebut bahkan dapat menjangkau lebih banyak orang. Dokumentasi yang dibuat hari ini dapat tersimpan dan dipelajari kembali bertahun-tahun kemudian.

Namun digitalisasi juga perlu dilakukan dengan bertanggung jawab. Informasi mengenai adat, sejarah dan tradisi sebaiknya diperoleh dari sumber yang memahami kebudayaan tersebut agar konten yang beredar tidak justru menghasilkan kekeliruan baru.

Karena itu, keterlibatan tokoh adat, budayawan, pegiat seni dan guru tetap dibutuhkan dalam proses pembuatan konten budaya.

Pada akhirnya, tantangan terbesar bukan memilih antara budaya atau teknologi, melainkan bagaimana memanfaatkan perkembangan teknologi tanpa kehilangan jati diri.

Teknologi boleh maju, tetapi budaya jangan sampai hilang. Tradisi adalah akar, dan generasi muda adalah salah satu penjaganya.

Semangat inilah yang diharapkan terus tumbuh di tengah masyarakat Simalungun: menjadikan kemajuan digital sebagai kekuatan baru untuk mendokumentasikan, mempelajari, memperkenalkan dan mewariskan budaya Simalungun kepada generasi masa depan.

Laporan : Nelfi Anna ULI Saragih

Editor : Fernando Albert Damanik

👁️ Dilihat: 4,578 kali
Gambar Gravatar
Penulis

Redaksi

Tim redaksi Nusantara News Today.

Lihat artikel lainnya
Nusantara News Popup - Boss WA

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Komentar