Oleh: Joan Berlin Damanik,SSi. MM
(Akademisi dan Pemerhati Kebijakan Publik)
Ruang digital Indonesia hari ini tidak lagi sekadar ramai, tetapi juga riuh oleh ekspresi yang cenderung dangkal. Alih-alih dipenuhi pertukaran ide yang sehat, berbagai tayangan live streaming di platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube justru kerap menampilkan ujaran kasar, sindiran, hingga konflik terbuka. Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran fungsi ruang digital dari sarana edukatif menjadi panggung sensasi. Menariknya, semakin ekstrem sebuah konten, semakin besar pula perhatian yang diraihnya.
Kondisi tersebut menandakan bahwa persoalan utama bukan kekurangan konten, melainkan banjirnya konten yang miskin nilai.
Normalisasi yang Kian Mengakar
Hal yang paling mengkhawatirkan adalah proses pembiasaan terhadap konten negatif. Ungkapan yang dulu dianggap melanggar etika kini diterima sebagai hal lumrah. Bahasa kasar berubah menjadi alat untuk menarik perhatian, sementara kesantunan justru sering dianggap kurang menarik.
Perubahan ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan gejala pergeseran nilai. Ruang digital yang semestinya menjadi tempat pembelajaran perlahan berubah menjadi arena yang mengedepankan sensasi dibanding substansi.
Konflik sebagai Tontonan: Fenomena PK-PK
Salah satu bentuk paling nyata adalah praktik PK (Player Kill) di TikTok. Format ini mempertemukan dua kreator dalam satu live streaming untuk saling bersaing mengumpulkan dukungan penonton melalui gift. Secara konsep, PK-PK dirancang sebagai hiburan interaktif. Namun dalam praktiknya, format ini sering kali bergeser dari esensi awalnya.
Tidak sedikit kreator yang menampilkan perilaku berlebihan demi memenangkan “pertandingan”. Ujaran provokatif, saling ejek, hingga konflik yang direkayasa menjadi strategi untuk menarik perhatian. Dalam banyak kasus, PK-PK justru cenderung mempertontonkan hal-hal yang kurang wajar, sehingga mengaburkan batas antara hiburan dan pelanggaran etika.
Pada titik ini, yang dipertaruhkan bukan lagi kualitas konten, melainkan kemampuan menciptakan keramaian.
Algoritma dan Logika Platform
Fenomena ini tidak dapat dilepaskan dari cara kerja sistem digital itu sendiri. Perusahaan seperti ByteDance dan Meta mengembangkan algoritma yang memprioritaskan keterlibatan pengguna. Konten yang mampu memicu emosi, baik kemarahan, keterkejutan, maupun kontroversi lebih berpeluang untuk tersebar luas.
Sebaliknya, konten yang edukatif dan santun sering kalah cepat dalam menarik perhatian. Hal ini menunjukkan bahwa popularitas konten tidak selalu ditentukan oleh kualitas, melainkan oleh daya pancing emosionalnya.
Literasi Digital yang Belum Kuat
Di sisi lain, literasi digital masyarakat belum berkembang secara optimal. Berbagai program edukasi memang telah dilakukan, namun implementasinya masih terbatas dan belum menyentuh perubahan perilaku secara signifikan. Nilai-nilai etika bermedia belum tertanam kuat dalam praktik sehari-hari.
Ketiadaan pedoman yang tegas membuat masyarakat cenderung mengikuti arus tanpa filter yang jelas. Akibatnya, konten yang tidak layak tetap mendapatkan ruang, bahkan berkembang pesat. Literasi digital yang seharusnya menjadi benteng justru belum berfungsi secara efektif.
Penonton sebagai Penentu Arah
Peran penonton dalam ekosistem ini sangat krusial. Mereka bukan hanya konsumen, tetapi juga aktor yang menentukan arah perkembangan konten. Ironisnya, konten yang vulgar dan penuh sensasi sering kali justru memperoleh dukungan dalam bentuk like, komentar, share, hingga gift saat live streaming berlangsung.
Setiap interaksi tersebut menjadi sinyal bagi sistem untuk terus mempromosikan konten serupa. Dengan kata lain, dukungan penonton turut memperkuat eksistensi konten yang tidak beretika. Di sinilah muncul kontradiksi: konten dikritik, tetapi tetap diberi ruang melalui dukungan digital.
Implikasi terhadap Budaya
Fenomena ini tidak hanya berdampak pada dunia digital, tetapi juga pada pembentukan nilai sosial. Jika generasi muda terus terpapar pada konten yang menormalisasi kekasaran, maka standar etika akan mengalami pergeseran. Perilaku yang sebelumnya dianggap tidak pantas perlahan menjadi sesuatu yang biasa.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi cara masyarakat berinteraksi, baik di ruang digital maupun dalam kehidupan nyata.
Menegaskan Batas
Kebebasan berekspresi tidak berarti tanpa batas. Etika justru menjadi fondasi penting agar kebebasan tersebut tidak kehilangan arah. Kreator perlu menyadari bahwa popularitas yang dibangun dari sensasi bersifat sementara, sedangkan reputasi membutuhkan integritas.
Penonton pun dituntut untuk lebih selektif. Tidak semua yang viral layak untuk diapresiasi. Kesadaran bersama menjadi kunci untuk menciptakan ruang digital yang lebih sehat.
Penutup: Menentukan Masa Depan Ruang Digital
Pada akhirnya, persoalan ini kembali pada pilihan kolektif: ruang digital seperti apa yang ingin kita bangun? Apakah ruang yang mendorong pemikiran kritis dan nilai edukatif, atau sekadar ruang yang dipenuhi kebisingan tanpa arah?
Perubahan tidak akan terjadi jika hanya dibebankan pada satu pihak. Kreator perlu menghadirkan konten yang bertanggung jawab, platform harus memperkuat kebijakan dan algoritma yang lebih berimbang, dan masyarakat harus lebih bijak dalam memberi dukungan. Selain itu, penguatan literasi digital perlu dilakukan secara lebih konkret, tidak hanya sebatas slogan, tetapi benar-benar menyentuh perilaku pengguna.
Jika langkah-langkah ini tidak segera diambil, maka ruang digital akan terus berkembang tanpa kendali ramai, tetapi hampa makna. Sebaliknya, jika semua pihak berperan aktif, ruang digital Indonesia masih memiliki peluang besar untuk kembali menjadi wadah yang mencerdaskan, beretika, dan memberi nilai bagi generasi mendatang.
Editor : Fernando Albert Damanik
Dilihat: 10 kali


















Komentar