ROMPI TAKTIS KONTROVERSIAL!

Verrel Bramasta 'SALAH KOSTUM' Kunjungi Korban Banjir, Netizen Geleng Kepala: Bencana Atau Medan Perang?

JAKARTA/LOKASI BENCANA – Niat baik Anggota Komisi X DPR RI, Verrel Bramasta, untuk menyalurkan bantuan kepada korban banjir bandang dan tanah longsor pada Minggu (30/11/2025), harus berakhir dengan kontroversi visual yang tajam di media sosial.

Bukan karena jumlah bantuannya, melainkan pilihan busana sang wakil rakyat yang menjadi sorotan: Verrel muncul di lokasi bencana dengan mengenakan Rompi Taktis (Tactical Vest), lengkap dengan gaya Plate Carrier yang identik dengan perlengkapan militer atau kepolisian.

Ikuti Kami

Dapatkan Update Berita Tercepat

YouTube
45.2K Subs
Subscribe
WhatsApp
18.5K Followers
Gabung
Telegram
12.3K Members
Join
Facebook
125.4K Fans
Ikuti
Google News
5.4K Readers
Ikuti

Kritik Tajam Netizen: Krisis Etika Visual di Lokasi Darurat

Penampilan Verrel seketika memicu perdebatan sengit. Netizen mempertanyakan sensitivitas anggota dewan terhadap situasi darurat kemanusiaan.

“Ini lokasi bencana, bukan medan perang! Mau lawan siapa Pak Verrel sampai pakai rompi anti peluru?” demikian salah satu kritik tajam yang viral di media sosial.

Kontras antara puing-puing bencana kemanusiaan dan perlengkapan berbau taktis tersebut dinilai tidak etis dan menunjukkan ketidaktepatan pemahaman terhadap realitas lapangan.

Fakta Rompi: Antara Fungsi dan Gaya Berlebihan

Rompi yang dikenakan Verrel adalah Tactical Vest tipe Plate Carrier, yang dirancang untuk membawa perlengkapan penting seperti P3K atau alat komunikasi.

Secara Terpercaya: Rompi jenis ini berpotensi menjadi anti peluru, tergantung apakah di dalamnya terpasang pelat balistik (seperti NIJ Level III/IV) atau Kevlar. Meskipun rompi itu kosong (hanya wadah), secara visual, ia tetap mengirimkan pesan yang salah di lokasi bencana.

Penggunaan rompi yang sangat spesifik dan berlebihan ini memunculkan pertanyaan kritis: Apakah ini pilihan fashion, atau benar-benar disiapkan untuk situasi keamanan yang genting?

Pemerhati etika publik menilai, seorang wakil rakyat seharusnya memprioritaskan penampilan yang simpatik dan merakyat, bukan yang memicu jarak dan spekulasi berlebihan di mata korban dan masyarakat luas.


By Redaksi | 02 November 2025

Komentar