SURAT TERBUKA & SERUAN MENDESAK KEPADA GUBERNUR SUMUT BOBBY NASUTION

Menggugat Keadilan di Ujung Labuhan Batu: Air Mata Wak Rambe vs. Janji Manis Pejabat

Oleh: Suleman Sinulingga ️

Bapak Gubernur, kami tidak meminta istana, kami hanya meminta jalan yang tidak merenggut nyawa.

Ikuti Kami

Dapatkan Update Berita Tercepat

YouTube
45.2K Subs
Subscribe
WhatsApp
18.5K Followers
Gabung
Telegram
12.3K Members
Join
Facebook
125.4K Fans
Ikuti
Google News
5.4K Readers
Ikuti

Inilah jeritan hati yang terpendam di sudut-sudut Kabupaten Labuhan Batu, dari Sei Tawar (Kecamatan Panai Hilir), Sei Bargot, hingga Lingga Tiga (Kecamatan Bilah Barat). Daerah-daerah yang akrab saya jalani ini—tempat mertua, tempat tinggal, dan kampung nenek saya—bukanlah wilayah asing, namun sering terasa seperti wilayah yang luput dari peta perhatian pemerintah provinsi.

Setiap kali saya melihat kesigapan bupati di daerah lain, seperti Ibu Afni Zulkifli di Siak yang terkenal dengan aksi nyata, bukan retorika, hati saya dilanda iri dan kerinduan yang menyakitkan. Pertanyaan fundamental pun muncul: “Mengapa bupati kami, Ibu Maya Sasmita, tidak bisa seperti itu?”

Apakah janji perbaikan infrastruktur yang diamanatkan rakyat itu terganjal MOU atau kontrak politik yang tak terucapkan?

 

Di Balik Debu dan Lumpur, Ada Nyawa yang Dipertaruhkan

 

Keadilan sosial mestinya merata, bukan hanya singgah di pusat kota. Di desa-desa ujung kabupaten ini, warga harus berjuang dengan nyawa setiap hari hanya untuk melintasi jalan utama mereka.

Lihatlah Wak Rambe, seorang warga Desa Sei Bargot, Kecamatan Bilah Barat. Suaranya tidak pernah lelah mengumandangkan perbaikan. Bukan karena ia hobi mengeluh, tapi karena ia berdiri di garis depan ancaman keselamatan yang nyata, terutama saat hujan mengubah jalan menjadi kubangan maut.

Apakah seruan Wak Rambe, dan teriakan dari warga Sei Tawar di Kecamatan Panai Hilir, akan selamanya hanya dianggap suara sumbang yang hilang ditelan angin politik? Tindakan nyata harus segera menggantikan retorika di tingkat kabupaten.

 

Bapak Gubernur, Kepala Kami Tak Ingin Terjedut Lagi!

 

Kepedulian ini harusnya tidak berhenti di tingkat kabupaten, melainkan menjadi tanggung jawab moral dan kebijakan di tingkat Provinsi Sumatera Utara.

Bapak Gubernur, saya ingat betul janji Anda saat masa kampanye. Di stasiun televisi, Anda berujar, “Kalau kita mau sampai ke Sumatera, kita pasti tahu, karena jalannya rusak dan kepala kita pasti kejedut.”

Kata-kata itu terasa begitu menusuk dan jujur, seolah Bapak benar-benar memahami penderitaan kami. Namun, setelah terpilih, apakah janji perubahan itu kini terlupa?

Seruan Mendesak kepada Bapak Bobby Nasution:

  1. Prioritaskan Labuhan Batu: Kami meminta Bapak Gubernur tidak hanya mendeskripsikan jalan rusak, tetapi segera mengalokasikan sumber daya dan anggaran untuk perbaikan total jalan di wilayah Sei Tawar, Sei Bargot, dan Lingga Tiga yang menjadi urat nadi ekonomi warga.
  2. Tindak Lanjut Janji Kampanye: Realisasikanlah janji perubahan itu. Kami tidak ingin kepala kami kejedut lagi karena harus menghindari lubang. Kami tidak ingin keluarga kami terjebak dalam ancaman saat melewati jalan yang seharusnya aman.
  3. Tataplah Ujung Kabupaten: Jangan biarkan kami di ujung Kabupaten Labuhan Batu ini luput dari pandangan dan hati nurani Anda. Di balik setiap lubang di jalan, ada harapan warga dan martabat Sumatera Utara yang sedang dipertaruhkan.

Tolonglah, Bapak Gubernur, tataplah kami. Habis sudah air mata Wak Rambe dan kesabaran rakyat. Kami menanti aksi nyata!

redaksi

Komentar