OPINI – Sebagai bagian dari Putra Simalungun yang bermarga Damanik, saya melihat dan membaca bahwa persoalan di Kabupaten Simalungun ini itu-itu saja sejak lama. Ada yang merasa paling memiliki Simalungun, ada yang merasa paling tua dari seluruh suku, dan pembahasan tak kunjung selesai.
Perdebatan ini sering kali mengeluarkan kata-kata yang busuk dan tidak pantas didengar. Yang mau dibuktikan apa, tujuannya apa, dan untungnya apa, pun tidak tahu.
Kebodohan yang Menutup Hati dan Etika
Intinya, kata BATAK—yang sejak dulu kala sudah ada, bahkan sebelum Sumpah Pemuda 1928 mencetuskan kesatuan pemuda Nusantara—menjadi pemicu panas. Ada yang merasa pewaris asal-usul, ada yang merasa berkecil hati karena dimasukkan dianggap satu rumpun.
Seiring perkembangan waktu, akibat kebodohan dan tertutupnya hati tentang pentingnya kesatuan dan persatuan, hal itu pun hilang. Menganggap ilmu dan keberadaannya lebih tinggi, sehingga etika dan adab dikesampingkan. Miris!
Khusus di Simalungun, dengan bermacam persoalan yang terjadi, mulai dari adat istiadat hingga persoalan yang lagi hangat saat ini soal tanah adat/ulayat, perdebatan malah tambah tidak terkontrol. Caci-maki dan sikap menang sendiri sampai-sampai mengarah kepada Rasis dan ada indikasi seakan-akan ingin menabuh genderang perang dengan kata “usir.”
“Sampai kapan ini akan berlanjut dan berakhir? Apa pula yang memicu semua ini terjadi?”
Kecemburuan Sosial dan Propokator Adalah Kutukan Divide et Impera
Sepanjang saya baca cerita dari orang tua atau penulis yang ada dulu, semuanya baik-baik saja. Lantas, apakah Divide et Impera (Pecah Belah dan Kuasai) menjadi kutukan sehingga sulit terlepas dari generasi masa lalu sampai saat ini? Entahlah.
Menurut saya, Keakuanlah pemicunya, ditambah kecemburuan sosial dan Propokator yang berhasil menguasai lapangan. Asal sudah kata Batak muncul, maka suasana menjadi melebar dan panas.
Seruan untuk Putra-Putri Simalungun
Saya ingin mengingatkan:
“JIKA INGIN PENDAPAT KITA DIDENGAR, COBALAH MENDENGAR PENDAPAT ORANG LAIN.”
Perbedaan itu biasa, dan jika tidak sesuai menurut pendapat kita, cukup tunjukkan eksistensi kita, selesai. Percayalah, tidak ada manusia yang merubah manusia lain.
Untuk itu, mari kita merubah diri kita sendiri sehingga caci maki dan hujatan dikurangi dalam satu kesatuan suku yang berbeda sebagai putra-putri Simalungun yang berdiam hidup di Tanoh Habonaron Do Bona.
Salam Damai, sudahi perdebatan. Jangan lupa pertahankan eksistensi suku yang kita miliki, terlebih adat dan budaya yang ada.
Horas! Horas! Horas! HABONARON DO BONA
redaksi

















Komentar